Sabtu, 21 Agustus 2010

Permasalahan kesehatan wanita dalam dimensi social dan upaya mengatasinya

6. PEKERJA SEKS KOMERSIAL

A. Pengertian Pekerja Seks Komersial

Pekerja seks komersial adalah seseorang yang menjual jasanya untuk melakukan hubungan seksual untuk uang. Di Indonesia pelacur (pekerja seks komersial) sebagai pelaku pelacuran sering disebut sebagai sundal atau sundel. Ini menunjukkan bahwa prilaku perempuan sundal itu sangat begitu buruk hina dan menjadi musuh masyarakat, mereka kerap digunduli bila tertangkap aparat penegak ketertiban, Mereka juga digusur karena dianggap melecehkan kesucian agama dan mereka juga diseret ke pengadilan karena melanggar hukum. Pekerjaan melacur atau nyundal sudah dikenal di masyarakat sejak berabad lampau ini terbukti dengan banyaknya catatan tercecer seputar mereka dari masa kemasa. Sundal selain meresahkan juga mematikan, karena merekalah yang ditengarai menyebarkan penyakit AIDS akibat perilaku sex bebas tanpa pengaman bernama kondom.

Pelacur adalah profesi yang menjual jasa untuk memuaskan kebutuhan seksual pelanggan. Biasanya pelayanan ini dalam bentuk menyewakan tubuhnya. Di kalangan masyarakat Indonesia, pelacuran dipandang negatif, dan mereka yang menyewakan atau menjual tubuhnya sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Ada pula pihak yang menganggap pelacuran sebagai sesuatu yang buruk, malah jahat, namun toh dibutuhkan (evil necessity). Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa kehadiran pelacuran bisa menyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkannya (biasanya kaum laki-laki); tanpa penyaluran itu, dikhawatirkan para pelanggannya justru akan menyerang dan memperkosa kaum perempuan baik-baik. Salah seorang yang mengemukakan pandangan seperti itu adalah Augustinus dari Hippo (354-430), seorang bapak gereja. Ia mengatakan bahwa pelacuran itu ibarat "selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya."

Istilah pelacur sering diperhalus dengan pekerja seks komersial, wanita tuna susila, istilah lain yang juga mengacu kepada layanan seks komersial. Khusus laki-laki, digunakan istilah gigolo. (http://id.wikipedia.org)

B. Pelacuran Menurut Agama

Pelacuran dalam pandangan islam

Pelacuran dalam pandangan Islam adalah haram hukumnya.

C. Faktor-faktor pendukung perilaku seks pada remaja

Pekerja seks komersial kebanyakan terjadi pada remaja yang diawali dengan terjadinya pergaulan kearah seks bebas.dimana menurut para ahli, alasan seorang remaja melakukan seks adalah sebagai berikut :

1) Tekanan yang datang dari teman pergaulannya

Lingkungan pergaulan yang dimasuki oleh seorang remaja dapat juga berpengaruh untuk menekan temannya yang belum melakukan hubungan seks, bagi remaja tersebut tekanan dari teman-temannyaitu dirasakan lebih kuat dari pada yang didapat dari pacarnya sendiri.

2) Adanya tekanan dari pacar

karena kebutuhan seorang untuk mencintai dan dicintai, seseorang harus rela melakukan apa saja terhadap pasangannya, tanpa memikirkan resiko yang akan dihadapinya. dalam hal ini yang berperan bukan saja nafsu seksual, melainkan juga sikap memberontak terhadap orang tuanya. Remaja lebih membutuhkan suatu hubungan, penerimaan, rasa aman, dan harga diri selayaknya orang dewasa.

3) Adanya kebutuhan badaniah

Seks menurut para ahli merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang, jadi wajar jika semua orang tidak terkecuali remaja, menginginkan hubungan seks ini, sekalipun akibat dari perbuatannya tersebut tidak sepadan dengan resiko yang akan dihadapinya.

4) Rasa penasaran

Pada usia remaja. keingintahuannya begitu besar terhadap seks, apalagi jika teman-temannya mengatakan bahwa terasa nikmat, ditambah lagi adanya infomasi yang tidak terbatas masuknya, maka rasa penasaran tersebut semakin mendorong mereka untuk lebih jauh lagi melakukan berbagai macam percobaan sesuai dengan apa yang diharapkan.

5) Pelampiasan diri

factor ini tidak hanya datang dari diri sendiri, misalnya karena terlanjur berbuat, seorang remaja perempuan biasanya berpendapat sudah tidak ada lagi yang dapat dibanggakan dalam dirinya, maka dalam pikirannya tersebut ia akan merasa putus asa dan mencari pelampiasan yang akan menjerumuskannya dalam pergaulan bebas.

Faktor lainnya datang dari lingkungan keluarga. bagi seorang remaja mungkin aturan yang diterapkan oleh kedua orang tuanya tidak dibuat berdasarkan kepentingan kedua belah pihak (orang tua dan anak), akibatnya remaja tersebut merasa tertekan sehingga ingin membebaskan diri dengan menunjukkan sikap sebagai pemberontak, yang salah satunya dalam masalah seks.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak di kehendaki, perlu ada perhatian dari kita bersama dengan cara memberikan informasi yang cukup mengenai pendidikan seks dan Pendidikan agama,Kalau tidak ada informasi dan pendidikan agama di khawatirkan remaja cendrung menyalah gunakan hasrat seksualnya tanpa kendali dan tanpa pencegahan sama sekali. semua menyedihkan, dan sekaligus berbahaya, hanya karena kurangnya tuntunan seksualitas yang merupakan bagian dari kemanusiaan kita sendiri. Kalau dikaitkan dengan kondisi saat ini maka sudah sewajarnyalah kita mendukung RUU APP. (http://www.univrab.ac.id)

  1. Faktor-faktor penyebab adanya PSK (pekerja seks komersial) adalah :

a. Kemiskinan

Diantara alasan penting yang melatarbelakangi adalah kemiskinan yang sering bersifat structural. Struktur kebijakan tidak memihak kepada kaum yang lemah sehingga yang miskin semakin miskin, sedangkan orang yang kaya semakin menumpuk harta kekayaannya.

Kebutuhan yang semakin banyak pada seorang perempuan memaksa dia untuk mencari sebuah pekerjaan dengan penghasilan yang memuaskan namun kadang dari beberapa mereka harus bekerja sebagai PSK untuk pemenuhan kebutuhan tersebut.

b. Kekerasan seksual

Penelitian menunjukkan banyak faktor penyebab perempuan menjadi PSK

diantaranya kekerasan seksual seperti perkosaan oleh bapak kandung, paman, guru dan sebagainya.

c. Penipuan

Faktor lain yaitu, penipuan dan pemaksaan dengan berkedok agen penyalur kerja. Kasus penjualan anak perempuan oleh orangtua sendiri pun juga kerap ditemui.

d. Pornografi

Menurut definisi Undang-undang Anti Pornografi, pornografi adalah bentuk ekspresi visual berupa gambar, tulisan, foto, film atau yang dipersamakan dengan film, video, tayangan atau media komunikasi lainnya yang sengaja dibuat untuk memperlihatkan secara terang-terangan atau tersamar kepada public alat vital dan bagian – bagian tubuh serta gerakan-gerakan erotis yang menonjolkan sensualitan dan seksualitas, serta segala bentuk perilaku seksual dan hubungan seks manusia yang patut diduga menimbulkan rangsangan nafsu birahi pada orang lain.

  1. Persoalan – persoalan psikologis

a. Akibat gaya hidup modern

Seseorang perempuan pastinya ingin tampil dengan keindahan tubuh dan barang-barang yang dikenalakannya. Namun ada dari beberapa mereka yang terpojok karena masalah keuangan untuk pemenuhan keinginan tersebut maka mereka mengambil jalan akhir dengan menjadi PSK untuk pemuasan dirinya.

b. Broken home

Kehidupan keluarga yang kurang baik dapat memaksa seseorang remaja untuk melakukan hala-hal yang kurang baik di luar rumah dan itu dimanfaatkan oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab dengan mengajaknya bekerja sebagai PSK.

c. Kenangan masa kecil yang buruk

Tindak pelecehan yang semakin meningkat pada seorang perempuan bahkan adanya pemerkosaan pada anak kecil bisa menjadi faktor dia menjadi seorang PSK.

  1. Dampak yang ditimbulkan bia seseorang bekerja sebagai PSK (pekerja seks komersial) :

a. Keluarga dan masyarakat tidak dapat lagi memandang nilainya sebagai seorang perempuan.

b. Stabilitas sosial pada dirinya akan terhambat, karena masyarakat hanya akan selalu mencemooh dirinya.

c. Memberikan citra buruk bagi keluarga.

d. Mempermudah penyebaran penyakit menular seksual, seperti gonore, klamdia,herpes kelamin,sifilis, hepatitis B, dan HIV/AIDS.

  1. Penanganan masalah PSK:

a. Keluarga

1. Meningkatkan pendidikan anak-anak terutama mengenalkan pendidikan seks secara dini agar terhindar dari perilaku seks bebas.

2. Meningkatkan bimbingan agama sebagai tameng agar terhindar dari perbuatan dosa.

b. Masyarakat

Meningkatkan kepedulian dan melakukan pendekatan terhadap kehidupan PSK.

c. Pemerintah

1. Memperbanyak tempat atau panti rehabilitasi.

2. Meregulasi undang-undang khusus tentang PSK.

3. Meningkatkan keamanan dengan lebih menggiatkan razia lokalisasi PSK untuk dijaring dan mendapatkan rehabilitasi.

  1. Menurut jumlahnya, prostitusi dibagi dalam :

1. Individual

2. Bantuan organisasi dan sindikat

  1. Menurut lokasinya :

1. Segregasi/lokalisasi

2. Rumah panggilan ‘call house”

3. Dibalik front organisasi/bisnis terhormat

  1. Klasifikasi :

1. Sektor formal (kompleks lokalisasi, panti pijat, club malam, perempuan pendamping, penyedia perempuan panggilan)

2. Sektor informal (berorientasi secara tidak tetap)

  1. Penanggulangan prostitusi

1. Preventif

· Penyempurnaan UU larangan/pengaturan penyelenggaraan pelacuran

· Intensifikasi pendidikan keagamaan

· Kesibukan untuk penyaluran energi yang positif

· Memperluas lapangan kerja

· Pendidikan seks

· Koordinasi berbagai instansi untuk pencegahan/penyebaran pelacuran

· Penyitaan buku, film dan gambar porno

· Meningkatkan kesejahteraan rakyat

2. Represif dan kuratif (menekan, menghapuskan dan menyembuhkan wanita dari ketunasusilaannya)

· Melakukan pengawasan dan kontrol yang sangat ketat terhadap lokalisasi yang sering ditafsirkan sebagai legalisasi

· Aktivitas rehabilitasi dan resosialisasi

· Penyempurnaan tempat penampungan dan pembinaan

· Pemberian pengobatan

· Membuka lapangan kerja baru

· Pendekatan keluarga

· Mencarikan pasangan hidup

· Pemerataan penduduk dan perluasan lapangan kerja

A. Ciri khas pelacur

Ada beberapa cirri khas seorang pelacur / Pekerja seks komersial

1) Wanita, lawan pelacur adalah gigolo (pelacur pria)

2) Biasanya cantik, ayu, rupawan, manis, atraktif, menarik

3) Muda

4) Pakaian mencolok, beraneka warna, eksentrik

5) Teknik seksual mekanistik, cepat, tidak hadir secara psikis

6) Mobile

7) Berasal dari strata ekonomi rendah

8) 60-80 % intelektual normal

B. Kategori pelacuran

Beberapa kategori seorang PSK, antara lain :

1) Pergundikan

2) Tante girang

3) Gadis panggilan

4) Gadis bar

5) Gadis juvenile delinguent

6) Gadis binal

7) Gadis taksi

8) Penggali emas

9) Hostes atau pramuria

10) Promiskuitas

C. Motif yang melatarbelakangi

Motif-motif yang melatarbelakangi seseorang menjadi pelacur / PSK

1) Kesulitan hidup

2) Nafsu seks abnormal

3) Tekanan ekonomi

4) Aspirasi materiil tinggi

5) Kompensasi terhadap perasaan inferior

6) Ingin tahu pada masalah seks

7) Pemberontakan terhadap otoritas orang tua

8) Simbol keberanian dan kegagahan

9) Gadis dari daerah slums dengan lingkungan immoril

10) Bujuk rayu laki-laki dan/calo

11) Stimulasi seksual melalui film, gambar, bacaan

12) Pelayan dan pembantu RT

13) Penundaan perkawinan

14) Disorganisasi dan disintegrasi kehidupan keluarga

15) Mobilitas pekerjaan atau jabatan pria

16) Ambisi besar mendapatkan status sosial ekonomi tinggi

17) Mudah dilakukan

18) Pecandu narkoba

19) Traumatis cinta

20) Ajakan teman

21) Tidak dipuaskan pasangan/suami

D. Akibat menjadi pelacur / PSK

Pelacur pada umumnya cepat menjadi tua dan layu, karena:

1) Kebiasaan buruk

2) Badan lemas dan lelah

3) Badan dimanipulir dan di eksploitasi

4) PMS termasuk HIV/AIDS, kehamilan, infertil

5) Kekerasan

6) Penghasilan lambat laun menurun

7) Usia lebih dari 30 tahun biasanya mengalami konflik jiwa

E. Masalah-masalah yang timbul dari PSK

Beberapa masalah yang timbul karena menjadi PSK, antara lain :

1) Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti Gonorrhoe, HIV/AIDS, siphilis, Klamidia

2) Timbul kehamilan yang pada umumnya tidak diinginkan

3) Timbul Kekerasan

4) Mengganggu ketenangan lingkungan tempat tinggal

F. PSK Pekerjaan tak bermoral

Faktor-faktor yang menyebabkan PSK dianggap sebagai pekerjaan yang tidak bermoral :

1) Pekerjaan ini identik dengan perzinahan yang merupakan suatu kegiatan seks yang dianggap tidak bermoral oleh banyak agama

2) Perilaku seksual oleh masyarakat dianggap sebagai kegiatan yang berkaitan dengan tugas reproduksi yang tidak seharusnya digunakan secara bebas demi untuk memperoleh uang.

3) Pelacuran dianggap sebagai ancaman terhadap kehidupan keluarga yang dibentuk melalui perkawinan dan melecehkan nilai sakral perkawinan.

4) Kaum wanita membenci pelacuran karena dianggap sebagai pecuri cinta dari laki-laki (suami) mereka sekaligus pencuri hartanya

G. Peran sebagai petugas kesehatan

Peran sebagai petugas kesehatan dalam masalah pekerja seks komersial yaitu :

1) Memberikan pelayanan secara sopan seperti melayani pasien-pasien yang lain

2) Belajar membuat diagnosa dan mengobati PMS

3) Mengenal berbagai jenis obat yang masih efektif, terbaru, murah dan cobalah menjaga kelangsungan pengadaan obat

4) Cari pengadaan kondom yang cukup dan rutin bagi masyarakat.

5) Memastikan ketersediaan pelayanan kesehatan termasuk KB, perawatan PMS dan obat yang terjangkau serta penanggulangan obat terlarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar