Sabtu, 07 Agustus 2010

Komplikasi dan Penyakit Dalam Masa Nifas dan Penangannya

KOMPLIKASI DAN PENYAKIT DALAM MASA NIFAS

SERTA PENANGANANNYA

1. INFEKSI NIFAS

a. Definisi

Ø Infeksi nifas mencakup semua peradangan yg disebabkan oleh masuknya kuman-kuman kedalam alat-genital genital pd wktu persalinan dan nifas.

Ø Demam dalam nifas sering disebabkan infeksi nifas, ditandai dengan suhu 38 ºC yg terjadi selama 2 hari berturut-turut.

Ø Kuman2 penyebab infeksi dapat berasal dari eksogen atau endogen, kuman2nya seperti streptococcus, bacil coli, staphylococcus.

b. Faktor Predisposisi

Ø Perdarahan

Ø Trauma persalinan

Ø Partus lama

Ø Retensio plasenta

Ø KU ibu (anemia dan malnutrition)

c. Patologi

Patologi infeksi nifas sama dgn infeksi luka. Infeksi itu dapat:

Ø Terbatas pada lukanya (infeksi luka perineum, vagina, serviks atau endometrium)

Ø Infeksi itu menjalar dari luka ke jaringan sekitarnya (thrombophlebitis, parametritis, salpingitis, peritonitis)

d. Macam-macam infeksi nifas :

Ø ENDOMETRITIS

1. Merupakan jenis infeksi yg paling sering, kuman-kuman memasuki endometrium biasanya pd luka bekas insersio plasenta & dalam waktu singkat mengikutsertakan seluruh endometrium.

2. Pd batas antara daerah yg meradang & daerah sehat trdapat lapisan terdiri atas leukosit. Leukosit akn membuat pagar pertahanan & disamping itu akan keluar serum yg mengandung zat anti.

3. Gambaran klinik tergantung jenis dan virulensi kuman, daya tahan penderita, dan derajat trauma pada jalan lahir. Kadang-kadang lokea tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta dan selaput ketuban. Keadaan ini dinamakan lokeometra.

4. Hal ini dapat menyebabkan kenaikan suhu.

5. Pada endometritis yg tdk meluas, penderita pd hari pertama merasa kurang sehat dan perut nyeri, milai hari ke-3 suhunya meningkat, nadi cepat, namun dalam kurun waktu 1 mggu keadaan akan menjadi normal.

Ø PERITONITIS

1. Infeksi nifas dapat menyebar melalui pembuluh limfe di dlm uterus langsung mencapai peritonium shg menyebabkan peritonitis.

2. Peritonitis yg hanya terbatas pd daerah pelvis, gejalanya tidak seberat pd peritonitis umum.

3. Penderita demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap baik. Sedangkan pd peritonitis umum suhu meningkat mjd tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri. Muka mejadi pucat, mata cekung dan kulit muka dingin.

4. Penanganan:

Ø Lakukan nasogastric suction

Ø Berikan infus (NaCl atau RL)

Ø Berikan antibiotika sehingga bebas panas selama 24 jam:

- Ampisilin 2 gr IV, kemudian 1 gr setiap 6 jam, ditambah gentamicin 5 mg/kgBB IV dosis tunggal/hari dan metronidazol 500mg IV setiap 8 jam.

Ø Laparotomi diperlukan untuk pembersihan perut (peritoneal lavage)

Ø BENDUNGAN ASI

1. Definisi

Bendungan ASI adalah pembendungan air susu karena penyempitan duktus laktiferi atau oleh kelenjar yang tidak dikosongkan dengan sempurna atau karena kelainan pada putting susu (Mochtar, 1996).

Menurut Huliana (2003) payudara bengkak terjadi karena hambatan aliran darah vena atau saluran kelenjar getah bening akibat ASI terkumpul dalam payudara. Kejadian ini timbul karena produksi yang berlebihan, sementara kebutuhan bayi pada hari pertama lahir masih sedikit.

2. Patologi

Faktor predisposisi terjadinya bendungan ASI antara lain :

v Faktor hormon

v Hisapan bayi

v Pengosongan payudara

v Cara menyusui

v Faktor gizi

v Kelainan pada puting susu

3. Patofisiologi

v Gejala yang biasa terjadi pada bendungan ASI antara lain payudara penuh terasa panas, berat dan keras, terlihat mengkilat meski tidak kemerahan.

v ASI biasanya mengalir tidak lancar, namun ada pula payudara yang terbendung membesar, membengkak dan sangat nyeri, puting susu teregang menjadi rata.

v ASI tidak mengalir dengan mudah dan bayi sulit mengenyut untuk menghisap ASI. Ibu kadang-kadang menjadi demam, tapi biasanya akan hilang dalam 24 jam (Mochtar, 1998).

4. Penatalaksanaan

Upaya pencegahan untuk bendungan ASI adalah :

v Menyusui dini, susui bayi sesegera mungkin (setelah 30 menit) setelah dilahirkan

v Susui bayi tanpa jadwal atau ondemand

v Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa, bila produksi melebihi kebutuhan bayi

v Perawatan payudara pasca persalinan

Upaya pengobatan untuk bendungan ASI adalah :

v Kompres hangat payudara agar menjadi lebih lembek

v Keluarkan sedikit ASI sehingga puting lebih mudah ditangkap dan dihisap oleh bayi.

v Sesudah bayi kenyang keluarkan sisa ASI

v Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara, berikan kompres dingin

v Untuk mengurangi statis di vena dan pembuluh getah bening lakukan pengurutan (masase) payudara yang dimulai dari putin kearah korpus. (Sastrawinata, 2004)

Ø INFEKSI PAYUDARA

1. Definisi

Dalam masa nifas dapat terjadi infeksi dan peradangan pada mammae terutama pada primipara. Tanda-tanda adanya infeksi adalah rasa panas dingin disertai dengan kenaikan suhu, penderita merasa lesu dan tidak ada nafsu makan. Penyebab infeksi adalah staphilococcus aureus. Mamae membesar dan nyeri dan pada suatu tempat, kulit merah, membengkak sedikit, dan nyeri pada perabaan. Jika tidak ada pengobatan bisa terjadi abses.

2. Berdasarkan tempatnya infeksi dibedakan menjadi :

a. Mastitis yang menyebabkan abses dibawah areola mamae.

b. Mastitis ditengah-tengah mammae yang menyebabkan abses ditempat itu.

c. Mastitis pada jaringan dibawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan abses antara mammae dan otot-otot dibawahnya.

3. Pencegahan

Perawatan putting susu pada laktasi merupakan usaha penting untuk mencegah mastitis. Perawatan terdiri atas membersihkan putting susu dengan minyak baby oil sebelum dan sesudah menyusui untuk menghilangkan kerak dan susu yang sudah mengering. Selain itu juga memberi pertolongan kepada ibu menyusui bayinya harus bebas infeksi dengan stafilococus. Bila ada luka atau retak pada putting sebaiknya bayi jangan menyusu pada mammae yang bersangkutan, dan air susu dapat dikeluarkan dengan pijitan.

4. Pengobatan

Segera setelah mastitis ditemukan pemberian susu pada bayi dihentikan dan diberikan pengobatan sebagai berikut :

Ø Berikan kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari.

Ø Sangga payudara

Ø Kompres dingin

Ø Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.

Ø Ikuti perkembangan 3 hari setelah pemberian pengobatan

Bila ada abses, nanah perlu dikeluarkan dengan sayatan sedikit mungkin pada abses, dan nanah dikeluarkan sesudah itu dipasang pipa ketengah abses, agar nanah bisa keluar. Untuk mencegah kerusakan pada duktus laktiferus sayatan dibuat sejajar dengan jalannya duktus-duktus. Atau jika terdapat masa padat, mengeras dibawah kulit yang kemerahan :

Ø Berikan antibiotik kloksasilin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 10 hari atau eritromisin 250 mg per oral 3 kali sehari selama 10 hari

Ø Drain abses :

o Anestesi umum dianjurkan

o Lakukan insisi radial dari batas puting ke lateral untuk menghindari cidera atau duktus

o Gunakan sarung tangan steril

o Tampon longgar dengan kasa

o Lepaskan tampon 24 jam ganti dengan tampon kecil

Ø Jika masih banyak pus tetap berikan tampon dalam lubang dan buka tepinya

Ø Yakinkan ibu tetap menggunakan kutang

Ø Berikan paracetamol 500 mg bila perlu

Ø Evaluasi 3 hari

Ø THROMBOPHLEBITIS

Penjalaran infeksi melalui vena. Sering terjadi dan menyebabkan kematian. Dua golongan vena yg memegang peranan yaitu:

v Vena-vena dinding rahim lig. Latum (vena ovarica, vena uterina, dan vena hipogastrika) atau disebut tromboplebitis pelvic

v Vena-vena tungkai (vena femoralis, poplitea, dan saphena) atau disebut tromboplebitis femoralis

Tromboplebitis pelvic

· Yg paling sering meradang adalah vena ovarica, karena pd vena ini mengalirkan darah dr luka bekas plasenta.

· Penjalarannya yaitu dr vena ovarica kiri ke vena renalis, vena ovarica kanan ke cava inferior

Tromboplebitis femoralis

· Dari trombophelebitis vena saphena magna atau peradangan vena femoralis sndr

· Penjalaran thrombophebitis vena terin

· Akibat parametritis : thrombophlebitis pd vena femoralis mgkn tjd krn aliran darah lambat didaerah lipat paha krn vena tertekan lig.inguinale.

· Thrombophlebitis femoralis tjd oedem tungkai yg mulai pd jari kaki dan naik ke kaki, betis, dan paha. Biasanya hanya 1 kaki yg bengkak tapi kadagn keduanya.

· Penyakit ini dikenal dgn nama phlegmasia alba dolens (radang yg putih & nyeri)

Ø LUKA PERINIUM

Luka akan menjadi nyeri, merah dan bengkak akhirnya luka terbuka dan mengeluarkan getah bernanah.

2. PERDARAHAN POST PARTUM DAN PENANGANNYA

a. Pengertian

Perdarahan post partum adl perdarahan lebih dari 500-600 ml selama 24 jam stl anak lahir.

b. Tahap perdarahan Post Partum

Ø Early post partum (primer), tjd 24 jam pertama stl bayi lahir

Ø Late post partum (sekunder), tjd lebih dr 24 jam pertama stl bayi lahir

c. Hal-hal yang menyebabkan perdarahan Post Partum

Ø Atonia uteri

1. Definisi

Gagalnya uterus berkontraksi dgn baik stl persalinan

2. Penyebab

· Umur yg terlalu muda/terlalu tua

· Paritas (multipara dan grandemulti)

· Partus lama

· Uterus terlalu regang atau besar (pd gemelli,bayi besar)

· Kelainan uterus

· Faktor sosial ekonomi

3. Penanganan

· Segera lakukan massage uterus dan suntikan ergometrin scr IV.

· jika tindakan ini tdk berhasil lakukan kompresi bimanual pd uterus.

4. Gambar

Ø Retenio plasenta

1. Definisi :

Keadaan dimana plasenta blm lahir dlm wktu lebih dr 30 menit setelah bayi lahir

2. Penyebab :

Plasenta blm lepas dr dinding uterus, menurut perlekatannya dibagi mejadi:

a. Plasenta normal

b. Plasenta adesiva

c. Plasenta inkreta

d. Plasenta akreta

e. Plasenta prekreta

Plasenta sdh lepas akan tetapi blm dilahirkan

3. Penanganan :

a. Manual plasenta

b. Perasat Crede

c. Perasat brant

Ø Inversio Uteri

1. Definisi :

Keadaan dmn keadaan fundus uteri terbalik sebagian atau seluruhnya ke dalam kavum uteri.

2. Inversio Uteri di bagi mejadi :

a. Inversio uteri ringan : Fundus uteri terbalik menonjol dalam kavum uteri, namun blm keluar dr ruangan rongga rahim

b. Inversio uteri sedang : fundus uteri terbalik & sdh masuk dlm vagina

c. Inversio uteri berat : uterus & vagina smuanya terbalik & sebagian udh keluar vagina

3. Penyebab :

a. Uterus lembek, lemah, tipis dindingnya

b. Grandemultipara

c. Kelemahan alat kandungan (tonus otot rahim yg lemah)

d. Tekanan intra abdominal yg tinggi (ex. Mengejan / batuk)

4. Penanganan :

a. Perbaiki KU ibu

b. Berikan Oksigen

c. Infus IV cairan elektrolit dan transfusi darah

d. Setelah itu lakukan reposisi dengan anestesi umum

Ø Robekan jalan lahir

1. Robekan jalan lahir mrpk penyebab ke2 tersering dr perdarahan PP

2. Gejala : perdarahan segera, darah segar mengalir segera stlh bayi lahir, kontraksi uterus baik, plasenta baik, kadang ibu terlihat pucat, lemah , menggigil.

3. Robekan perinium di bagi 4 :

· Tingkat 1 :

Robekan hanya pada selaput lender vagina atau tanpa mengenai, kulit perineum

· Tingkat 2 :

Robekan mengenai selaput lender vagina & otot perinea transversalis tapi tidak mengenai springter ani.

· Tingkat 3 :

Robekan mengenai seluruh perinium & otot springter ani

· Tingkat 4 :

Robekan sampai mukosa rectum

Ø Sebagian plasenta yg tertinggal (plasenta restan)

3. GANGGUAN PSIKOLOGIS MASA NIFAS

a. Post Partum Blues

Ø Disebabkan oleh perubahan perasaan yg dialami ibu saat hamil sehingga sulit menerima kehadiran bayinya. Biasanya muncul sekitar 2 hari smp 2 mgg sejak kelahiran bayi.

Ø Sebetulnya ini hal yg normal & akan hilang dengan sndrnya sekitarnya 10-14 hari stlh melahirkan.

Ø Etiologi :

1. Perubahan Hormon

2. Stress

3. ASI tdk keluar

4. Frustasi yg tdk mau tdr

5. Kelelahan pasca kelahiran

6. Suami yg tidak mau membantu

7. Problem dgn org tua dan mertua

8. Takut kehilangan bayi

9. Takut untuk memulai hubungan suami istri

10. Bayi sakit

11. Rasa bosan si ibu dan problem dgn si sulung

Ø Adakalanya ibu merasakan kesedihan krn kebebasan, otonomi, interaksi sosial, kemandiriannya berkurang hal ini menyebabkan depresi post partum

b. Depresi Post Partum

Ø Gejala2 :

1. Merasa bosan & sedih atau menangis sesudah melahirkan.

2. Mudah marah, tersinggung dan perasaan lebih sensitif kala melihat bayi menangis, sering muntah, tanpa sadar kadang suka memarahi sang bayi.

3. Merasa tersinggiung, bersalah, & malu selama di RS.

4. Nafsu makan hilang, dan takut menyentuh bayi

5. Tidak ada perhatian untuk penampilan pribadi

6. Gejala fisik seperti banyak wanita sulit bernafas atau berdebar2.

Ø Penanganan :

1. Pelajari diri sendiri

2. Tidur & makan yg cukup

3. Olah raga

4. Hindari perubahan hidup sblm dan ssdh melahirkan

5. Beritahukan perasaan anda

6. Dukungan keluarga & orang lain

7. Persiapan diri dengan baik

8. Lakukan pekerjaan rumah tangga

9. Dukungan emosional

c. Post Partum Psikosa

Ø Definisi

Adalah depresi yang terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan.

Ø Penyebab

Disebabkan karena wanita menderita bipolar disorder atau masalah psikiatrik lainnya yang disebut schizoaffektif disorder. Wanita tersebut mempunyai resiko tinggi untuk terkena post partum psikosa.

Ø Gejala

Gejala yang sering terjadi adalah:

1. Delusi

2. Halusinasi

3. Gangguan saat tidur

4. Obsesi mengenai bayi

Ø Gambaran Klinik

1. Terkena perubahan mood secara drastis, dari depresi ke kegusaran dan berganti menjadi euforia dalam waktu singkat.

2. Penderita kehilangan semangat dan kenyamanan dalam beraktifitas,sering menjauhkan diri dari teman atau keluarga, sering mengeluh sakit kepala dan nyeri dada, jantung berdebar-berdebar serta nafas terasa cepat.

Ø Pencegahan

Untuk mengurangi jumlah penderita ini sebagai anggota keluarga hendaknya harus lebih memperhatikan kondisi dan keadaan ibu serta memberikan dukungan psikis agar tidak merasa kehilangan perhatian.

Saran kepada penderita untuk:

1. Beristirahat cukup

2. Mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang

3. Bergabung dengan orang-orang yang baru

4. Bersikap fleksible

5. Berbagi cerita dengan orang terdekat

6. Sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis

Ø Penanganan

1. Farmakologis

Penanganan dalam tingkat dini terdiri atas psikoanalisis dan obat-obat sedatif dalam dosis tinggi (konsultasi dgn Dokter, Psikolog, Psikiater)

2. Tenaga kesehatan

o Yakinkan calon ibu bahwa kehamilan dan persalinan merupakan hal yang normal dan wajar sejak kunjungan awal ANC.

o Ajarkan dan berikan latihan-latihan relaksasi otot dan pernafasan

o Hindari kata-kata yang mematahkan semangat klien

o Tetap jaga wibawa, bila pasien mencoba melucu (tidak ikut tertawa saat pasien mencoba menarik kita untuk tertawa)

o Perhatikan adanya kelainan-kelainan fisik

o Tinjau keluarga untuk menlihat toleransi dan penerimaan/pengertian terhadap kondisi pasien serta untuk terapi dan pengawasan selanjutnya.

Ø Perjalanan penyakit dan pengobatan

1. Perjalanan penyakit bervariasi dan bergantung pada penyebab penyakit

2. Keparahan psikosis post partum mengharuskan diberikannya terapi farmakologis dan pada sebagian besar kasus dilakukan rawat inap.

Ø Terapi Gangguan Jiwa

Saat ini tersedia sejumlah besar obat psikotropika untuk mengatasi gangguan jiwa. Sebagian wanita hamil yang memerlukan farmakoterapi telah menderita penyakit jiwa berat, misalnya gangguan bipolar, gangguan skizoafektif, skizofrenia atau depresi mayor berulang. Wanita lain yang memerlukan terapi adalah mereka yang mengalami gangguan emosi yang berkembang selama kehamilan.

1. Antidepresan

o Depresi berat memerlukan terapi dan pada sebagian besar kasus, manfaat terapi melabihi risikonya.

o Antidepresan trisiklik seperti amitriptilin, doksepin, imipramin, dan nortriptilin sering digunakan untuk gangguan-gangguan depresif.

o Efek samping pada ibu adalah hipotensi ortostatik dan konstipasi. Sedasi juga sering terjadi, sehingga obat golongan ini sangat bermanfaat bagi masalah tidur yang berkaitan dengan depresi

o Inhibitor monoamin oksidase (MAOI) adalah antidepresan yang sangat efektif yang semakin jarang digunakan karena menyebabkan hipotensi ortostatik. Pengalaman dengan inibitor selektif ambilan ulang serotonin (selective serotonin reuptake inhibitors, SSRI), termasuk fluoksetin dan sertralin, menyebabkan obat golongan ini menjadi terapi primer bagi sebagian besar penyakit depresi. Obat-obat ini tidak menimbulkan hipotensi ortostatik atau sedasi sehingga lebih disukai daripada antidepresan lain.

2. Antipsikotik

o Wanita dengan sindrom-sindrom kejiwaan yang berat seperti skizofrenia, gangguan skizoafektif, atau gangguan bipolar sangat mungkin memerlukan terapi antipsikotik selama kehamilan.

o Antipsikotik tipikal adalah golongan antagonis dopamine.

o Klozapin adalah satu-satunya antipsikotik atipikal yang tersedia, dan obat ini memiliki kerja yang berbeda tetapi tidak diketahui.

o Potensi dan efek samping berbagai antipsikotik berbeda-beda. Obat-obat yang berpotensi lebih rendah, klorpromazin dan tioridazin, memiliki efek antikolinergik yang lebih besar serta bersifat sedatif.

3. Litium

Keamanan litium selama kehamilan masih diperbebatkan. Selain kekhawatiran tantang teratogenesitas, juga perlu dipertimbangkan indeks terapetiknya yang sempit. Pernah dilaporkan toksisitas litium pada neonatus yang mendapat ASI.

4. Benzidiazepin

o Obat golongan ini mungkin diperlukan selama kehamilan bagi wanita dengan gangguan cemas yang parah atau untuk pasien psikotik yang agitatif atau mengamuk.

o Diazepam mungkin menyebabkan depresi neurologis berkepanjangan pada neonatus apabila pemberian dilakukan dekat dengan kelahiran.

5. Terapi Kejut Listrik (Elektroconvulsive Therapy, ECT)

o Terapi dengan kejutan listrik untuk depresi selama kehamilan kadang-kadang diperlukan pada pasien dengan gangguan mood mayor yang parah dan tidak berespon terhadap terapi farmakologis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar