Sabtu, 07 Agustus 2010

Konsep Dasar Penyulit Kala I dan Kala II

KELAINAN PRESENTASI DAN POSISI

1. PRESENTASI MUKA
a. ETIOLOGI
 Penyebab presentasi muka umumnya berasal dari faktor apapun yg menyebabkan ekstensi/menghalangi fleksi kepala. Seperti pembesaran leher atau lilitan tali pusat disekitar leher.
 Posisi ekstensi lbh sering terjadi pd panggul sempit/ janin sangat besar

b. FAKTOR PREDISPOSISI
 Pada wanita multipara, perut gantung mrpakan faktor predisposisi bg presentasi muka. Keadaan ini menyebabkan punggung bayi merosot kedepan ke arah lateral, sering kali pd arah yg sama oksiput shg menambahkan ekstensi vertebra servikalis dan torakalis.
 Paritas yang tinggi.

c. MEKANISME
 Presentasi muka jarang ditemukan di atas pintu atas panggul. Umumnya yg muncul adalah presentasi dahi yang biasanya akan berubah menjadi presentasi muka setelah terjadi ekstensi kepala lebih lanjut selama penurunan kepala.
 Terdiri dari gerakan2 utama yaitu penurunan kepala, putaran paksi dalam, fleksi, serta adanya gerakan tambahan seperti ekstensi dan putaran faksi luar.

d. MACAM-MACAM PRESENTASI MUKA
 Posisi dagu anterior
 Posisi dagu posterior
 Gambar :



e. PENATALAKSANAAN

 Apabila panggul tidak sempit dan terjadi persalinan efektif, persalinan pervaginam biasanya akan berhasil.
 Pemantauan frekensi DJJ sebaiknya dilakukan dengan menggunakan alat eksterna.
 Untuk mengubah secara manual presentasi muka menjadi presentasi puncak kepala, rotasi manual atau dengan forcep.

Untuk posisi dagu anterior:

• Bila pembukaan lengkap:
- Lahirkan dengan persalinan spontan pervagina
- Bila kemajuan persalinan lambat lakukan oksitosin drip
- Bila penurunan kurang lancar lakukan forcep
• Bila pembukaan belum lengkap:
- Tidak didapatkan tanda obstruksi, lakukan oksitosin drip.
Lakukan evaluasi persalinan sama dengan presentasi verteks

Untuk posisi dagu posterior:
• Bila pembukaan lengkap atau belum lengkap, lakukan seksio sesarea
• Bila janin mati lakukan kraniotomi

2. PRESENTASI DAHI
a. ETIOLOGI
Pada prinsipnya sama dengan presentasi muka

b. DIAGNOSA
Presentasi ini dapat diketahui dengan palpasi abdomen dan pemeriksaan dalam atau VT (dapat diraba sutura frontalis, UUB depan, tonjolan orbita,mata dan pangkal hidung)

c. MEKANISME
Pada bayi besar umumnya sukar karena engagement tidak mungkin terjadi sampai terdapat molase secara nyata yang menimbulkan pemendekan diameter oksipitomentalis sampai terjadi baik fleksi menjadi presentasi oksiput atau ekstensi menjadi presentasi muka.

d. PROGNOSIS
Pada presentasi dahi, yang terjadi sesaat prognosis tergantung pd presentasi terakhir. Jika presentasi dahi berlangsung persisten prognosis persalinan pervagina jelek. Kecuali bila bayi kecil/jalan lahir besar.

e. PENATALAKSANAAN
Prinsipnya sm dengan presentasi muka, sebaiknya dilakukan persalinan melalui SC.




3. POSISI OKSIPUT POSTERIOR
a. ETIOLOGI
Bentuk panggul antropoid, androit, kesempitan panggul tengah, ketuban pecah sblm waktunya, fleksi kepala kurang, inersia uteri/ tdk ada kontraksi.
Adakalanya oksiput berputar kebelakang dan anak lahir bisa lahir dengan posisi di bawah simpisis jika fleksi kurang.

b. PENANGANAN
Kalo ada indikasi bisa dilakukan vakum atau forsep.


DISTOSIA KELAINAN TENAGA ATAU HIS

1. Baik tidaknya his dinilai dengan =
• Kemajuan persalinan
• Sifat his, frekuensi, kekuatan dan lamanya his
• Besarnya kaput sucadeneum

2. Kekuatan his tidak boleh di nilai dari perasaan nyeri penderita. His itu diketahui kurang kuat kalo =
• Terlalu lemah
• Terlalu pendek
• Terlalu jarang

3. Inersia Uteri :
Ini merupakan pemanjangan fase laten atau fase aktif atau keduanya dari pembukaan. Pada pemanjangan fase laten dpt disebabkan karena servik yang belum matang atau karena penggunaan analgesi terlalu cepat. Pemanjangan vase deselerasi diketemukan pada disproporsi cepalo pelvik.

• Inersia Uteri Dibagi 2 :
a. Inersia uteri hipotonik : dmn kontraksi terkoordinasi tapi lemah, hingga menghasilkan tekanan yg kurang dr 15mmHg. His kurang sering dan pd puncak kontraksi dinding rahim masih dapat ditekan ke dalam.
b. Inersia uteri hipertonis : dmn kontraksi tdk terkoordinasi, misalnya kontraksi segmen tengah lebih kuat dari pada segmen atas. Inersia uteri ini sifatnya hipertonis sering disebut inersia spastis.

• Sebab – Sebab :
a. Penggunaan analgesik terlalu cepat
b. Kesempit an panggul
c. Letak defleksi
d. Kelainan posisi
e. Regangan dinding rahim (hidramnion, gemelli)
f. Perasaan takut dari ibu

• Penyulit :
a. Inersia uteri dapat menyebabkan kematian
b. Kemungkinan infeksi bertambah
c. Kehabisan tenaga ibu dan dehidrasi, tanda-tandanya suhu meninggi, aseton uri, nafas cepat, turgor kulit berkurang

• Penatalaksanaan Inersia Hipotonis :
Jika ketuban positif maka pengobatan ialah dgn pemecahan ketuban terlebih dahulu dan klo perlu diberi pitosin. Pada panggul sempit absolut dilakukan SC.

• Penatalaksanaan Inersia Hipertonis :
Pengobatan yg terbaik adalah morvin 10 mg atau dengan petidin 50 mg untuk menimbulkan relaksasi dan istirahat, dgn harapan pasien bangun dengan his yg normal.Jika his tidak menjadi baik dapat dilakukan SC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar