Senin, 02 Agustus 2010

Komplikasi dan Penyulit Kehamilan Trimester III

KELAINAN DALAM LAMANYA KEHAMILAN


PENYAKIT YANG MENYERTAI KEHAMILAN

1. DIABETES MELLITUS

a. Definisi

Diabetes mellitus (DM) (dari kata Yunani , diabainein, "tembus" atau "pancuran air", dan kata Latin mellitus, "rasa manis yang umum dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglisemia (peningkatan kadar gula darah) yang terus-menerus dan bervariasi, terutama setelah makan.

b. Diabetes Melitus pada kehamilan

Sering disebut Diabetes Melitus Gestasional, merupakan penyakit diabetes yang terjadi pada ibu-ibu yang sedang hamil. Gejala utama dari kelainan ini pada prinsipnya sama dengan gejala utama pada penyakit diabetes yang lain yaitu :

1) Sering buang air kccil (polyuri),

2) Selalu merasa haus (polydipsi),

3) Scring merasa lapar (polyfagi).

Seperti halnya penyakit kencing manis pada umumnya, pada pemeriksaan gula darah pun ditemukan nilai yang tinggi pada kadar gula darah puasa dan 2 jam setelah makan serta bila dilakukan pemeriksaan kadar gula pada urine (air kencing) juga ditemukan reaksi positif. Pemeriksaan ini dapat diulang selama proses pengobatan dengan obat antidiabetes untuk memantau kadar gula darah.

Yang perlu diperhatikan dalam pengaturan diet wanita hamil adalah kebutuhan kalori pada wanita hamil tidak sama dengan wanita normal sekalipun wanita hamil tersebut menderita kencing manis. Jumlah kalori untuk diet = berat badan ideal wanita hamil x (25-30) kalori + ekstra 200 - 300 kalori dengan perincian minimal 200 gr hidrat arang dan protein (1,5 - 2) gr/kg BB ideal.


c. Pengaruh DM pada kehamilan, Persalinan dan Nifas

1) Pengaruh pada kehamilan

a) Abortus dan partus prematurus

b) Pre eklamsia

c) Hidramnion

d) Kelainarr letak janin

e) Insnfisiensi plasenta

2) Pengaruh pada persalinan

a) Insersia uteri dan atonia uteri

b) Distosia bahu karena anak besar

c) Bayi lahir mati

d) Persalinan SC

e) Lebih mudah terjadi infeksi

f) AKI meningkat

3) Pengaruh pada masa nifas

a) Infeksi nifas

b) Menghambat penyembuhan luka jalan lahir

2. JANTUNG

Pada masa kehamilan selalu terjadi perubahan-perubahan dalam system kardiovaskuler yang biasanya masih dalam batas fisiologik, hal ini dikarenakan janin yang sedang tumbuh memerlukan oksigen dan zat-zat makanan yang terus bertambah seiring dengan tuanya kehamilan, yang harus dipenuhi melaui darah ibu. Banyaknya darah yang beredar akan menjadikan jantung harus bekerja lebih berat. Perubahan system kardiovaskuler ini disebabkan oleh :

a. Hidremia (hipervolemia) dalam kehamilan, dimulai saat umur kehamilan 10 minggu dan mencapai puncak antara 32-36 minggu.

b. Karena uterus yang semakin lama semakin membesar mendorong diafragma ke atas, ke kiri dan ke depan, sehingga pembuluh darah besar dekat jantung mengalami lekukan dan putaran.

Jantung yang normal dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut di atas, akan tetapi jantung yang sakit tidak. Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa penyakit jantung menjadi lebih besar karena kehamilan, bahkan dapat terjadi dekompensasi kordis.

Saat-saat yang berbahaya bagi penderita adalah :

a. Pada kehamilan 32-36 minggu, apabila hipervolemia mencapai puncaknya

b. Saat partus kala II, apabila wanita mengerahkan tenaga untuk mengejan

c. Pada masa post partum, karena dengan lahirnya plasenta anatomis arteri vena hilang dan darah yang seharusnya masuk ke dalam intervilus sekarang masuk ke dalam sirkulasi besar.

a. Diagnosis

Burwell dan Metcalfe mengajukan 4 kriteria, satu diantaranya sudah cukup untuk membuat diagnosis penyakit jantung dalain kehamilan, yaitu :

1) Rising diastolic, sistolik atau bising jantung terus menerus

2) Pembesaran jantung yang jelas

3) Bising jantung yang nyaring

4) Aritma yang berat

b. Pengaruh penyakit jantung pada kehamilan

1). Mudah terjadi abortus

2). Prematuritas

3). Dismaturitas

4). Lahir dengan APGAR rendah aiau lahir mati

5). Kematian janin dalam kandungan

c. Penatalaksanaan dalam kehamilan

1). Pengawasan antenatal yang teratur

2). Pencegahan kenaikan berat badan dan retensio cairan yang berlebihan

3). Menangani keadaan yang dapat memperberat kerja jantung seperti anemia, hipertensi dan hipotensi.

4). Penderita harus cukup istirahat, diet rendah garam, pembatasan masukan cairan

5). Sebaiknya dirawat di RS 1-2 minggu sebelum taksiran partus

6). Bila muncul gejala segera dirawat di RS

3. SISTEM PERKEMIHAN

Infeksi Saluran Kemih adalah bila pada pemeriksaan urine, ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 10.000 ml. Urine yang diperiksa harus bersih, segar dan dari aliran tengah (midstream) atau diambil dengan fungsi suprasimfisis. Ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 10.000 / ml ini disebut dengan istilah bakteri uria. Bakteri uria ini mungkin tidak disertai gejala, disebut bakteri uria asimptomatik. Walaupun infeksi dapat terjadi karena penyebaran kuman melalui pembuluh darah atau saluran limfe, akan tetapi yang terbanyak atau tersering adalah kuman-kuman naik keatas melalui uretra, kedalam kandung kemih dan saluran kemih yang lebih atas. Kuman yang tersering dan terbanyak sebagai penyebab adalah Escherichia coli, disamping kemungkinan kuman-kuman lain seperti Enterobacter aerogenes, Klebsiella, Pseudomonas dan lain-lain.

MASALAH

· Infeksi saluran kemih merupakan infeksi medik utama pada wanita hamil.

· Sekitar 15 % wanita mengalami (paling sedikit) satu kali serangan ahut infeksi saluran kemih selama hidupnya.

· Akibat infeksi ini dapat mengakibatkan masalah pada ibu dan janin.

PENANGANAN UMUM

· Melalui asuhan antenatal yang balk, peningkatan status gizi ibu hamil mencegah dan mengobati anemia, prohnosi kcsehatan umum dan hygiene dapat mengurangi morbiditas atau mortalitas akibat infeksi pads saluran kemih.

· Asuhan antenatal untuk kehamilan dan pemantauan berkala.

· Cegah komplikasi sistitis dan pielonefritis.

· Bila terjadi gangguan fungsi ginjal yang berat dapat menimbulkan komplikasi yang serius.

· Mengkonsumsi cukup cairan dan nutrisi yang diperlukan_

· Penapisan kasus infeksi saluran kemih, dimulai dari unit pelayanan yang ada dimasyarakat hingga kerumah sakit rujukan, melalui system rujukan kesehatan.

· Penatalaksanaan dan pengobatan infeksi saluran kemih, sangat tergantung dari gejala atau jenis penyakit dan mikroorganisme penyebab.

· Pemberian antibiotik yang rasional untuk wanita hamil dengan infeksi saluran kemih adalah dengan mengisolasi mikroorganisme penyebab.

· Pilihan terapi antibiotika, mengacu pada keamanannya terhadap kesehatan ibu dan janin serta efektifitas yang tinggi.

Infeksi pada saluran kemih dapat terjadi pada wanita hamil akibat perluasan rahim yang menekan saluran penghubung ginjal dan ureter sehingga aliran urin terhambat. Berkurangnya kecepatan aliran urin menyebabkan bakteri berkembang biak dan menimbulkan infeksi dengan gejala sering kencing, rasa sakit dan panas pada waktu kencing atau urin keruh atau bercampur darah. Penanganan yang paling tepat adalah dengan terapi antibiotik. Jangan anggap sepele gejala ini dan segeralah berkonsultasi dengan dokter. Infeksi kandung kemih yang tidak diobati dengan baik dapat menyebabkan infeksi pada ginjal.

4. SISTEM PERNAPASAN

ASMA

a. Definisi

Asma merupakan salah satu penyakit saluran nafas yang sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan. Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya serangan asma tidaklah sama pada setiap penderita. Tapi secara umum derajat asma pada ibu hamil adalah sepertiga membaik, sepertiga memburuk, dan sepertiga sisanya tetap.

Kondisi asma yang memburuk umumnya muncul pada minggu ke 29-36 masa kehamilan. Sementara pada 4 minggu terakhir masa kehamilan, keadaan justru membaik. Bahkan, menurut Rengganis, selama proses persalinan dan kelahiran, hanya 10% ibu hamil penderita asma yang menunjukkan gejala asma. Hal ini disebabkan oleh membaiknya fungsi paru.

b. Klasifikasi

Walaupun penyakit asma sudah dikenal sejak 2.000 tahun lalu, sejauh ini penyebab asma masih misteri. Asma yang dalam bahasa Yunani berarti "sesak napas" dibedakan menjadi dua macam, yakni :

1) Asma kardial yang berhubungan dengan kelainan jantung,

2) Asma bronkial yang merupakan penyakit saluran pernapasan.

Asma bronkial ini penderitanya jauh lebih banyak dan asma bronchial ini dibagi menjadi 2 yaitu :

a) Asma bronkial Ekstrinsik

Penderita asma bronkial ekstrinsik biasanya hipersensitif dan hiperaktif terhadap macam-macam rangsangan dari luar, seperti debu, cuaca, tungau kapuk, obat nyamuk, tepung sari, dsb.

b) Asma bronkial Intrinsik

Sedangkan tipe asma bronkial intrinsik atau non alergik jumlah penderitanya lebih sedikit. Asma ini umumnya muncul bila penderita mendapat gangguan psikis, stres, olahraga berat, dan perubahan cuaca yang drastis. Sifatnya kronis disertai dahak berkelanjutan dan rentan terhadap aspirin.

Gejala asma muncul akibat menyempitnya saluran pernafasan bagian bawah secara luas yang ditandai dengan batuk dan mengi. Penyempitan saluran pernafasan ini bisa disebabkan mengkerutnya otot polos saluran pernafasan, pembengkakan selaput lendir, serta pembentukan dan timbunan lendir yang berlebihan dalam rongga saluran pernafasan. Pada umumnya (85%) jenis asma alergik seperti ini banyak terdapat di negara tropis dan timbul sebelum usia 30 tahun.


c. Asma pada Kehamilan

Perjalanan asma pada ibu hamil dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron yang terus meningkat. Faktor peningkatan histamin selama kehamilan yang berasal dari jaringan janin pun mempunyai efek asmogenik.

Demikian juga protein dasar mayor (MBP= mayor basic protein) yang banyak ditemukan dalam plasenta, bila sampai masuk ke paru-paru.

"Yang penting mengoptimalkan kesehatan ibu dan janin," dokter perlu mengetahui pengaruh kehamilan terhadap asma, asma terhadap kehamilan serta pengaruh obat asma terhadap kehamilan secara individu. Risiko terbesar yang ditakutkan bila sampai terjadi hipoksia (kekurangan oksigen) lantaran asma berat yang tidak terkontrol.

Untuk mencegah terjadinya serangan hebat selama hamil hendaknya asma diperiksa dan dipantau sejak awal, termasuk derajat berat-ringannya asma yaitu :

1) Kategori ringan, bila gejala kambuh sampai terjadinya serangan maksimal dua kali/minggu ditambah batuk dan mengi sehabis berlatih olahraga.

2) Kondisi sedang, bila gejala timbul lebih dari dua kali/minggu, kadang disertai gejala sering kencing malam hari.

3) Sementara asma dikatakan berat, kalau gejala terjadi terus menerus selama seminggu penuh.

5. SISTEM HEMATOLOGI

a. Anemia

Anemia pada wanita tidak hamil didefinisikan sebagai konsentrasi hemoglobin yang kurang dari 12 g/dl dan kurang dari 10 g/dl selama kehamilan atau masa nifas. Konsentrasi hemoglobin lebih rendah pada pertengahan kehamilan, pada awal kehamilan dan kembali menjelang aterm, kadar hemoglobin pada sebagian besar wanita sehat yang memiliki cadangan besi adalah 11g/dl atau lebih. Atas alasan tersebut, Centers for disease control (1990) mendefinisikan anemia sebagai kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dl pada trimester pertama dan ketiga, dan kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua (Suheimi, 2007).

Wanita hamil berisiko menderita anemia dengan gejala cepat lelah, nafas pendek, dan sering pusing. Gangguan ini bisa disebabkan karena kekurangan zat besi. Pada masa kehamilan zat besi sangat diperlukan untuk memproduksi sel-sel darah merah janin sehingga kebutuhan akan zat besi bertambah dua kali lipat. Anemia pada wanita hamil juga bisa disebabkan oleh kekurangan asam folat. Akibat kekurangan asam folat, janin bisa mengalami risiko kecacatan otak dan sumsum tulang belakang. Anemia juga dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi setelah melahirkan. Pada kondisi ini wanita hamil disarankan untuk mengatur nutrisi pada makanannya atau bila perlu mengkonsumsi suplemen zat besi dan asam folat selama hamil.

Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh, sehingga kebutuhan zat besi (Fe) untuk eritropoesis tidak cukup, yang ditandai dengan gambaran sel darah merah hipokrom-mikrositer, kadar besi serum (Serum Iron = SI) dan jenuh transferin menurun, kapasitas ikat besi total (Total Iron Binding Capacity/TIBC) meninggi dan cadangan besi dalam sumsum tulang serta ditempat yang lain sangat kurang atau tidak ada sama sekali. Banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya anemia defisiensi besi, antara lain, kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan, adanya gangguan absorbsi diusus, perdarahan akut maupun kronis, dan meningkatnya kebutuhan zat besi seperti pada wanita hamil, masa pertumbuhan, dan masa penyembuhan dari penyakit.

b. Patofisiologi Anemia Pada Kehamilan

Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah oleh karena perubahan sirkulasi yang makin meningkat terhadap plasenta dari pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat 45-65% dimulai pada trimester ke II kehamilan, dan maksimum terjadi pada bulan ke 9 dan meningkatnya sekitar 1000 ml, menurun sedikit menjelang aterem serta kembali normal 3 bulan setelah partus. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasenta, yang menyebabkan peningkatan sekresi aldesteron.

c. Etiologi Anemia Pada Kehamilan

Etiologi anemia defisiensi besi pada kehamilan, yaitu :

a) Hipervolemia, menyebabkan terjadinya pengenceran darah.

b) Pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma.

c) Kurangnya zat besi dalam makanan.

d) Kebutuhan zat besi meningkat.

e) Gangguan pencernaan dan absorbsi.

d. Gejala Klinis

Wintrobe mengemukakan bahwa manifestasi klinis dari anemia defisiensi besi sangat bervariasi, bisa hampir tanpa gejala, bisa juga gejala-gejala penyakit dasarnya yang menonjol, ataupun bisa ditemukan gejala anemia bersama-sama dengan gejala penyakit dasarnya. Gejala-gejala dapat berupa kepala pusing, palpitasi, berkunang-kunang, perubahan jaringan epitel kuku, gangguan sistem neurumuskular, lesu, lemah, lelah, disphagia dan pembesaran kelenjar limpa. Pada umumnya sudah disepakati bahwa bila kadar hemoglobin <>

e. Derajat Anemia

Nilai ambang batas yang digunakan untuk menentukan status anemia ibu hamil, didasarkan pada criteria WHO tahun 1972 yang ditetapkan dalam 3 kategori, yaitu normal (≥11 gr/dl), anemia ringan (8-11 g/dl), dan anemia berat (kurang dari 8 g/dl). Berdasarkan hasil pemeriksaan darah ternyata rata-rata kadar hemoglobin ibu hamil adalah sebesar 11.28 mg/dl, kadar hemoglobin terendah 7.63 mg/dl dan tertinggi 14.00 mg/dl.

Klasifikasi anemia yang lain adalah :

a. Hb 11 gr% : Tidak anemia

b. Hb 9-10 gr% : Anemia ringan

c. Hb 7 – 8 gr% : Anemia sedang

d. Hb < style=""> : Anemia berat.

f. Dampak Anemia Defisiensi Zat Besi Pada Kehamilan

Anemia juga menyebabkan rendahnya kemampuan jasmani karena sel-sel tubuh tidak cukup mendapat pasokan oksigen. Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Risiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat. Di samping itu, perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah.

Dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan abortus, partus imatur/prematur), gangguan proses persalinan (inertia, atonia, partus lama, perdarahan atonis), gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infeksi dan stress kurang, produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR, kematian perinatal, dan lain-lain)

g. Pengobatan Anemia

Pengobatan anemia biasanya dengan pemberian tambahan zat besi. Sebagian besar tablet zat besi mengandung ferosulfat, besi glukonat atau suatu polisakarida. Tablet besi akan diserap dengan maksimal jika diminum 30 menit sebelum makan. Biasanya cukup diberikan 1 tablet/hari, kadang diperlukan 2 tablet. Kemampuan usus untuk menyerap zat besi adalah terbatas, karena itu pemberian zat besi dalam dosis yang lebih besar adalah sia-sia dan kemungkinan akan menyebabkan gangguan pencernaan dan sembelit. Zat besi hampir selalu menyebabkan tinja menjadi berwarna hitam, dan ini adalah efek samping yang normal dan tidak berbahaya

6. SISTEM PENCERNAAN

PENYAKIT TRAKTUS DIGESTIVUS (ALAT PENCERNAAN)

Terdapatnya perubahan fungsi alat pencernaan dalam kehamilan adalah hal yang biasa.Perubahan-perubahan tersebut umumnya tidak berarti dan tidak berbahaya, dan akan dapat ditanggulangi dengan mudah dengan penerangan. Obat-obat yang relatif ringan atau dangan melalui pendekatan psikologik.

Ada tiga faktor yang menyebabkan fungsi alat pencernaan tersebut dalam kehamilan,yaitu perubahan hormonal.anatomik, dan fisiologik kehamilan, dan ketiga faktor tersebut akan memberikan pengaruh pada fungsi alat pencernaan. Selama kehamilan akan terjadi pula penurunan gerakan saluran alat cerna karena tonus otot-otot alat pencernaan yang berkurang,di samping itu terdapat pula perubahan letak serta penekanan yang disebabkan oleh pembesaran rahim (uterus). Perasaan mual ,muntah,nafsu makan menurun ,ketidaksukaan pada makanan tertentu atau bau-bauan tersebut atau dengan pemberian obat-obat yang relatif ringan ternyata sudah cukup. Akan tetapi kadang-kadang keluhan wanita hamil tersebut sangat berlebihan sehingga dapat membahayakan kesehatan atau perlu jiwanya, maka perlu dipikirkan penyebab lain, yang ikut berperan sebagai penyebabnya seperti seorang wanita hamil yang menginginkan makanan tertentu yang tidak lazimnya dimakan orang,umpamanya tepung kanji, makan mentah,garam,tanah dan sebagainya. Penyebab kelainan ini sangat erat hubungannya dengan faktor sosial, tingkat kebudayaan dan sebagainya,sehingga pengobatannya haruslah melalui pendekatan fisiologik. Begitu pula tak jarang disalah tafsirkan gejala-gejala penyakit organ dalam rongga perut yang gawat, dan dianggap sebagai ganggguan yang disebabkan oleh kehamilan biasa. Oleh karena itu pula diketahui kelainan dan penyakit-penyakit yang sering ditemukan dalam kehamilan yang erat hubungannya dengan alat pencernaan.

MULUT

1. Ptialismus (syalorea,bipersalivasi)

Pada kehamilan trimester pertama,kemungkinan dijumpai produksi air ludah berlebihan dari biasa, sehingga menyebabkan wanita hamil tersebut seringkali membuang ludah.Produksi air ludah yang berlebihan ini disebut ptialismus. Hal ini karena ketidaksanggupan wanita tersebut menelan air ludahnya sebagai akibat dari perasaan mual. Pengobatan khusus tidak ada, cukup dengan pendekatan dan penerangan secara psikologik.

2. Gingivitis dan epulis

Dalam kehamilan sering gusi menjadi bengkak dan lemah serta mudah berdarah,terutama pada waktu gosok gigi atau sentuhan yang ringan lainnya. Hal ini karena pengaruh dari hormon esterogen yang meningkat.

Seringkali timbul stomatitis dan gingivitis dalam kehamilan,dan untuk itu perlu perawatan agar selalu bersih selama kehamiln. Kadang-kadang ditemukan pula pembengkakan gusi setempat dan banyak mengandung pembuluh-pembuluh darah,sehingga mudah berdarah. Kelainaan ini disebut epulis gravidarum. Pengobatan khusus tidak ada,dan setelah lahir epulis tersebut akan hilang sendirinya.

3. Karies dentis

Dalam kehamilan sering dijumpai gingivitis dan karies dentis,akan tetapi tidaklah beralasan kehamilan sebagai penyebab meningkatnya kejadian karies dentis. Karies dentis sebelum hamil sudah ada, dan kekurangan kalsium akan memperburuk kerusakan giginya seperti juga terjadi sebelum hamil. Pengobatan yaitu dengan merawat gigi, mulut, serta mencukupi kebutuhan kalsium dalam kehamilan.

ESOFAGUS

1. Pirosis (heartburn,nyeri dada)

Pirosis adalah perasaan nyeri di dada,Karena masuknya isi lambung ke dalam esophagus bagian bawah.Keluhan sering ditemukan dalam kehamilan,terutama dalam posisi tengkurap,yaitu menelan sesuatu makanan tertentu atau obat.Pada kehamilan tua,mungkin kelainan ini agak sering dijumpai karena pengaruh tekanan rahim yang membesar.Pada esophagus terjadi esofagitis,akan tetapi pada endoskopi tudak kelihatan ada tanda-tanda radang,hanya secara histologik dapat dilihat.Isi lambung tersebut berisi sam klorida,pepsin serta makanan.Pirosis biasanya tidak akan menimbulkan komplikasi seperti striktura.perdarahan karena waktunya sebentar saja.Pengobatan cukup dengan memberikan obat antacid,mengubah posisi tubuh dan menegakkan kepala serta mencegah tengkurap setelah makan.Keadaan yang lebih berat,kadang-kadang menyebabkan penderita sulit menelan,ada perdarahan (hematemesis),sebagai akibat terjadi esofagitis erosif.Pengobatannya tetap seperti diuraikan di atas,yaitu konservatif.

2. Esofagitis erosiva

Esofagitis erosiva merupakan akibat yang gawat dari kembalinya isi lambung ke dalam esophagus, ada agaknya tidak mempunyai hubungan dengan hiperemesis gravidarum. Gejala yang paling sering dijumpai ialah waktu menelan (disfagia) disertai pirosis. Hematemesis dapat terjadi, adan esofagoskopi meninjukkan erosion berdarah pada selaput lender satu pertiga bawah esophagus.

Penanggulangan sama dengan pada pirosis biasa. Apabila terjadi hematemesis, penderita disuruh minum air es atau menelan es batu kecil-kecil. Biasanya kelainan ini sembuh sama sekali dengan sendirinya setelah kelahiran. Striktura esofagei yang sampai memerlukan dilatasi jarang terjadi.

3. Varises esofagei

Varises esofagei akibat sirosis hepatic menjadi lebih besar dan lebih mudah pecah dalam kehamilan, karena hipervolemia kehamilan hipertensi portal.

LAMBUNG

1. Hernia hiatus diafragmatika

Hernia driafragmatika ialah masuknya bagian atas lambung ke dalam lubang diafragma. Kelainan ini sering dijumpai dalam kehamilan, kira-kira 17 %, terutama dalam kehamilan trimester III, dan lebih sering pada multipara dalam usia lanjut. Kelainan ini akan sembuh sendiri, setelah anak lahir. Penderita mungkin mengeluh tentang gangguan pencernaan berupa pirosis, muntah, kadang-kadang tak ada keluhan sama sekali. Kalau keluhan meningkat, mungkin ada hubungan dengan dua faktor, yaitu wanita tersebut telah menderita hernia hiatus dan isi lambung yang bertambah besar. Sering dokter mengira gejala-gejala tersebut disebabkan oleh karena hamil biasa, sedangkan kalau diperiksa dengan foto roentgen mungkin dijumpai adanya hernia. Hernia hiatus jarang mengalami strangulasi hernia dalam kehamilan, dan kalau ada biasanya penderita mengeluh sesak napas, sianotik, kadang-kadang dapat jatuh dalam syok.

Penanganannya adalah simptomatik, penderita ditidurkan setengah duduk, makanan diberikan dalam porsi kecil-kecil. Kalau hernia tersebut diketahui sebelum hamil, sebaiknya penderita tidak hamil, atau dilakukan operasi lebih dahulu.

2. Ulkus peptikum

Ulkus peptikum jarang dijumpai dalam kehamilan, perjalanan penyakitnya bervariasi. Pada wanita yang mempunyai ulkus peptiku sebelum hamil, biasanya etelah penyebab utama E, coli, disamping dapat pula oleh kuman-kuman lain. Faktor predisposisi lain adalah uretra wanita yang pendek, sistokel, adanya sisa air kemih yang tertinggal, disamping penggunaan kateter yang sering dipakai dalam usaha mengeluarkan air kemih dalam pemeriksaan ginekoloik atau persalinan. Penggunaan kateter ini akan mendorong kuman-kuman yang ada di uretra distal untuk masuk kedalam kandung kemih. Dianjurkan untuk tidak menggunakan kateter, bila tidak perlu betul.


Gejala-gejala sistitis khas sekali, yaitu kencing sakit ( disuria ) terutama pada akhir berkemah, meningkatkannya frekuensi berkemah dan kadang-kadang disertai nyeri dibagian atas simfisis, perasaan ingin berkemah yang tidak dapat ditahan, air kemih kadang-kadang terasa panas, suhu badan mungkin normal atau meningkat, dan nyeri didaerah suprasimfisis. Pada pemeriksaan laboratorium, biasanya ditemukan banyak leukosit dan eritrosit dan kadang-kadang juga ada bakteri. Kadang-kadang dijumpai hematuria sedangkan proteinuria biasanya tidak ada.

Sistitis dapat diobati dengan sulfonamide, ampisilin, eritromisi. Perlu diperhatikan obat-obat lain yang baik digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih, akan tetapi mempunyai pengaruh tidak baik bagi janin, atau pun bagi ibu.

USUS BESAR

1. Appendisitis akuta

Kejadian appendicitis akuta dalam kehamilan dan diluar kehamilan tidaklah berbeda.Kejadian satu diantara 1000 sampai 2000 wanita hamil. Akan tetapi kejadian perforasi,lebih sering pada kehamilan, yaitu 1,5 sampai 3,5 kali dari wanita tidak hamil. Hal ini karena diagnosis dini appenisitis akuta kadang-kadang sulit dibuat ,sering meragukan, atau dikacaukan oleh keadaan-keadaan seperti:

a. Gejala dan tanda rasa mual,muntah,anoreksia,perut gembung,dan nyeri di perut sering dijumpai pula pada kelainan lain dari appedencitis.

b. Adanya leukositosis fisiologik dalam kehamilan yang mungkin menyerupai jumlah leukosit pada appendicitis akuta.

c. Berpindahnya letak soekum akibat dorongan rahim yang makin membesar menyebabkan letak appendiks juga berpindah. Pada akhir pertengahan usia kehamilan, appendiks terletak di bagian kanan atas, sehingga gambaran klinik yang di berikan oleh appendicitis yang biasa tidak menunjukkan gambar yang seperti diluar kehamilan.

d. Adanya relaksasi otot-otot dinding perut pada kehamilan lanjut, memyebabkan tanda-tanda nyeri, kekakuan dinding perut, menjadi tak jelas.

e. Tanda-tanda appendicitis akuta kadang-kadang diperlihatkan pula oleh kelainan–kelainan lain,seperti pada kehamilan muda dengan adanya kista dari ligamentum rotundum pada kehamilan lebih lanjut, solusio plasenta tingkat permulaan, infeksi saluran kemih,persalinan prematur, obstruksi usus halus. Pada masa nifas adanya endometritis atau adneksitis.

2. Kolitis ulserosa

Kolitis ulserosa yang biasanya menahun merupakan suatu penyakit peradangan disertai ulkus-ulkus pada mulanya direktum,kemudian menjalar ke atas dan dapat sampai ke usus halus. Perjalanan penyakit dalam kehamilan tak dapt di ramalkan sebelumnya, sangat bervariasi. Biasanya bagian uss yang terserang adalah mukosa dan submukosa, jarang lapisan otot dan serosa, Gejala-gejala klinik tersering adalahdiare dengan darah,nanah atau lendir,badan panas, leukositosis takikardia, perut terasa tidak enak malas makan dan berat badan menurun.Komplikasi penyakit ini mungkin dapat terjadi perforasi, perdarahan, sehingga penderita jadi anemia, defisiensi protein dan vitamin.

3. Ileus

Ileus bisadi jumpai dalam kehamilan,persalina dan nifas,terutama pada partus lama dan terlantar; setelah bedah kebidanan dan sebagainya, Ileus paralitikus lebih sering dijumpai dibandingkan ileus obstruktif.Gejala : muntah, perut gembung (meteorismus) obstipasi bising usus diam (paralitis) dan bising usus bunyi logam (obstruktif).Diagnosis lebih jelas dilakukan dengan foto roentgen .Konsultasi dengan ahli bedah sangat dianjurkan.

Penanganan :

- Ileus obstrukti : segera tindakan operatif

- Ileus paralitis : terapi konservatif dengan pemberian cairan dan elektrolit yang cukup. Pasang pipa hidung lambung dan pipa rectum. Diberikan pula obat-obat dekompresi untuk perut yang gembung

.

DAERAH ANUS

1. Pruritus ani

Pruritus ani kadang-kadang dijumpai dalam kehamilan dan dapat sangat mengganggu penderita. Biasanya pengobatan juga sulit.rasa gatal dapat terbatas di daerah perinatal dan menjalar lebih luas sampai di daerah kelamin, bagian dalam paha, dan pantat.Karena rasa gatal. Daerah itu digaruk, yang menimbulkan/menambah iritasi kulit, dan seterusnya ini menambah rasa gatal.

Pruritas ani dapat dibagi dalam 2 golongan : a) yang mempunyai sebab organik, dan b) yamg disebabkan faktor psikogenik.Dalam golongan pertama termasuk pruritas yang disebabkan oleh fissura et fistula ani, proktitis, wasir, jamur, diabetesmelitus,alergi terhadap benang sintetik pakaian dalam, atau ukuran pakaian yang tidak sesuai. Golongan kedua biasanya disebabkan oleh konflik emosional dalam kehamilan yang berdasarkan ketidakmatangan psiko-seksual.

Penanggulangan harus dimulai dengan menghilangkan/menghindarkan faktor penyebabnya.Iritasi kulit akibat garukan diobati dengan salep kortison. Apabila pengobatan tidak berhasil dan tidak ditemukan organik, maka sebaiknnya dimintakan konsultasi pada psikiater.

2. wasir (hemoroid )

Dalam kehamilan dapat terjadi pelebaran hemoroidalis interna pleksus hemoroidalis eksterna, karena terdapatnya konstipasi dan pembesaran uterus ,hemoroid ini lebih nyata dan dapat menonjol keluar anus. Wasir yang kecil kadang-kadang menimbulkan komplikasi hebat yaitu rasa nyeri serta perdarahan saat buang air besar, serta ada sesuatu yang keluar dari anus.

Wasir dapat didiagnosis dengan mudah, yaitu adanya keluhan rasa peih da daerah anus,perdarahan, serta pada pengamataan ditemukan vena yang membengkak di anus atau di rectum. Pada hemoroid interna dan eksterna yang tidak menimbulkan keluhan tidak perlu di berikan pengobatan, dan setelah melahirkan hemoroid tersebut akan mengecil sendirinya


Pada hemoroid yang besar, yang menjadi keluar baik dalam kehamilan masa nifas, yang menimbulkan keluhan, perlu dilakukan antara lain reposisi oleh dokter maupun oleh penderita sendiri, dengan menggunakan salep antihemoroid. Usahakan penderita agar makan-makanan yang lunak dan tidak meneran. Pada keadaan yang sudah berdarah,diberi anti-salep atau supositoria. Tindakan sklerossing atau hemoroidektomia jarang diperlukan.

3. Pissura ani

Fissura ini merupakan kelainan yang sering dirasakan sangat nyeri dan terdiri atas luka-luka memanjang pada dinding belakang anus.Asalnya tidak di ketahui dengan pasti ; mungkin trauma pada mukosa dengan kriptitis,atau sebagai akibat pecahnya abses kista.

Mula-mula rasa nyeri dialami pada waktu penderita buang air besar,sehingga penderita segan untuk kebelakang; kemudian rasa nyeri berlangsung sampai beberapa jam setelah defekasi.Fissura yang baru terjadi dapat diharapkan akan sembuh spontan.Akan tetapi, fissura menahun yang disertai peradangan menahun dengan banyak keluhan memerlukan eksisi lebar semua jarigan yang sakit, disertai insisi muskulus sfingter ani eksternus, juga pada wanita hamil.

KEHAMILAN DENGAN INFEKSI

Kehamilan sering terjadi bersamaan dengan infeksi yang dapat mempengaruhi kehamilan atau sebaliknya memberatkan infeksi. Di samping itu terdapat beberapa infeksi yang dapat menimbulkan kelainan kongenital, sehingga kombinasi tersebut memerlukan pengobatan yang intensif dan melakukan gugur kandung.

Untuk kepentingan pendidikan bidan dan tugas bidan di tengah masyarakat tidak semua infeksi akan dibicarakan dan terutama ditekankan pada infeksi yang umum dijumpai atau pengaruh timbal balik antara infeksi dan kehamilan.

A. Rubella

Infeksi virus Rubella merupakan penyakit ringan pada anak dan dewasa, tetapi apabila terjadi pada ibu yang sedang mengandung virus ini dapat menembus dinding plasenta dan langsung menyerang janin.

Penyakit ini jarang dijumpai di Indonesia. Infeksi pada kehamilan dapat menimbulkan kelainan bawaan. Cacat bawaan yang ditimbulkan makin tinggi bila infeksi sudah terjadi pada triwulan pertama sekitar 35% sampai 50% bayi yang dilahirkan.

Gejala klinis setelah bayi lahir adalah mata katarak, kelainan jantung, atau tuli. Gejala lain adalah berat badan rendah, trombositopeni, kelainan tulang, kelainan kelenjar endrokin, kekurangan hormon pertumbuhan, diabetes atau radang paru-paru.

Virus Rubella ditularkan melalui urin, kontak pernafasan, dan memiliki masa inkubasi 2-3 minggu . Penderita dapat menularkan virus selama seminggu sebelum dan sesudah timbulnya ras (bercak merah) pada kulit. Ras Rubella berwarna merah jambu, menghilang dalam 2-3 hari, dan tidak selalu muncul untuk semua kasus infeksi. Bayi merupakan sumber infeksi (karier). Pengobatan tidak ada yang bersifat khas hanya diberikan simtomatis gamma globulin atau vaksin rubella.

Kematian pada post natal rubella biasanya di sebabkan oleh enchepatitis. Pada infeksi awal, virus akan masuk melalui traktus respiratorius yang kemudian akan menyebar ke kelenjar limfe sekitar dan mengalami multiplikasi serta mengawali terjadinya viremia dalam waktu 7 hari. Janin dapat terinfeksi selama terjadinya viremia maternal. Saat ini, telah diketahui bahwa infeksi plasenta terjadi pada 80 % kasus dan risiko kerusakan jantung, mata, atau telinga janin sangat tinggi pada trimester pertama. Jika infeksi maternal terjadi sebelum usia kehamilan 12 minggu, 60 % bayi akan terinfeksi. Kemudian, risiko akan menurun menjadi 17 % pada minggu ke-14 dan selanjutnya menjadi 6% setelah usia kehamilan 20 minggu . Akan tetapi, plasenta biasanya terinfeksi dan virus dapat menjadi laten pada bayi yang terinfeksi kongenital selama bertahun – tahun.

Seseorang yang mempunyai kekebalan terhadap rubella ditandai dengan adanya IgG-spesific anti-rubella. Seseorang dengan titer hemaglutination inhibition lebih atau sama dengan 1:8, menunjukkan adanya kekebalan pada orang tersebut. Seseorang yang memungkinkan ada kontak dengan rubella, apabila didapatkan peningkatan yang signifikan dari IgM, menunjukkan adanya infeksi akut.

1. Pemeriksaan Rubella

Strategi pemeriksaan yang dilakukan untuk pencegahan rubella adalah melakukan pemeriksaan IgG.

Ø Bila hasil positif, menunjukkan adanya imunitas pada penderita.

Ø Bila hasil negatif, menunjukkan tidak adanya imunitas pada penderita dan perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan pada 17 sampai 20 minggu kehamilan. Bila IgG menjadi positif, perlu dilakukan pemeriksaan IgM.

Ø Bila IgM positif, menunjukkan adanya infeksi primer.

Ø Bila IgM negatif, perlu dilakukan pemeriksaan ulang. Bila pemeriksaan ulang IgM memberi hasil negatif, hal ini menunjukkan tidak adanya infeksi. Infeksi primer yang terjadi pada kehamilan kurang dari 17 minggu akan menimbulkan resiko pada janin sehingga lebih dipertimbangkan dilakukan abortus medicinalis.

Seseorang yang kemungkinan ada kontak dengan rubella, apabila didapatkan peningkatan yang signifikan dari IgM, menunjukkan adanya infeksi akut. Jika kontak terjadi dalam satu minggu dengan IgM negatif, pemeriksaan perlu diulang dua sampai tiga minggu. Jika hasilnya negatif, berarti tidak ada infeksi. Jika ada kontak dan pemeriksaan pertama IgG negatif, maka dilakukan pemeriksaan ulangan dua sampai tiga minggu lagi. Jika titer meningkat sampai empat kali, menunjukkan adanya infeksi akut. Jika pada pemeriksaan pertama tersebut IgG positif dan terdapat peningkatan titer empat kali pada pemeriksaan ulang jarak dua sampai tiga minggu, menunjukkan adanya infeksi akut atau merupakan reinfeksi.

B. Hepatitis

Hepatitis dibagi menjadi 3 macam yaitu hepatitis B, hepatitis A dan hepatitis C. Penularan hepatitis B yang paling sering adalah akibat hubungan seksual , hepatitis A hanya menular pada kontak seksual secara fekal oral.

Penyakit hati dapat disebabkan oleh virus tipe A atau tipe B. Gambaran umum penyakit ini dapat diperberat oleh kehamilan, sehingga manifestasi kliniknya lebih jelas seperti nafsu makan kurang (anoreksia), panas badan dapat tinggi (meningkat), nyeri di daerah hati (epigastrium), tampak ikterus (kuning), dan pada pemeriksaan hati dapat membesar.

Pada wanita hamil kemungkinan untuk terjangkit hepatitis virus adalah sama dengan wanita tidak hamil pada umur yang sama. Infeksi hepatitis virus pada kehamilan tidak berhubungan langsung dengan peristiwa kehamilaan , namun tetap memerlukan penanganan khusus, mengingat penyulit – penyulit yang mungkin timbul baik untuk ibu maupun janin.

Pengaruh infeksi hepatitis terhadap kehamilan bersumber dari gangguan fungsi hati dalam mengatur dan mempertahankan metabolisme tubuh, sehingga aliran nutrisi ke janin dapat terganggu atau berkurang. Oleh karena itu, pengaruh infeksi hati terhadap kehamilan dapat dalam bentuk keguguran atau persalinan prematuritas dan kematian janin dalam rahim.

Pengobatan infeksi hati tidak ada yang bersifat khas kecuali banyak istirahat dan makanan mengandung banyak gula, sehingga mengubah metabolisme lemah dan protein ke arah glukosa, untuk meringankan beban fungsi hati.

Pada kehamilan, hepar ternyata tidak mengalami pembesaran. Hal ini bertentangan dengan penelitian pada binatang yang menunjukkan bahwa hepar membesar pada waktu kehamilan. Bila kehamilan sudah mencapai trimester ke III, sukar untuk melakukan palpasi pada hepar, karena hepar tertutup oleh pembesaran rahim . Oleh karena itu bila pada kehamilan trimester ke III hepar dapat dengan mudah diraba, berarti sudah terdapat kelainan-kelainan yang sangat bermakna. Perubahan-perubahan mikroskopik pada hepar akibat kehamilan adalah tidak khas . Pengaliran darah ke dalam hepar tidak mengalami perubahan, meskipun terjadi perubahan yang sangat menyolok pada sistem kardio vaskuler.

Wanita hamil sering menunjukkan tanda –tanda mirip adanya penyakit – penyakit hepar, misalnya : spider naevi dan palmarerythema, yang wajar pada kehamilan, akibat meningkatnya kadar estrogen. Semua protein serum yang disintese dalam hepar akan mengalami perubahan pada waktu kehamilan. Jumlah protein serum menurun sekitar 20 % pada trimester II, akibat penurunan kadar albumin secara menyolok, sedang fibrinogen justru mengalami kenaikan .

1. Pengaruh Hepatitis Virus pada kehamilan dan janin

Ø Bila hepatitis virus terjadi pada trimester I atau permulaan trimester II maka gejala –gejala nya akan sama dengan gejala hepatitis virus pada wanita tidak hamil. Meskipun gejala –gejala yang timbul pada trimester III, namun penderita hendaknya tetap dirawat dirawat di rumah sakit .

Ø Hepatitis virus yang terjadi pada trimester III, akan menimbulkan gejala-gejala yang lebih berat dan penderita umumnya menunjukkan gejala-gejala fulminant. Pada fase inilah acute hepatic necrosis sering terjadi, dengan menimbulkan mortalitas ibu yang sangat tinggi , dibandingkan dengan penderita tidak hamil. Pada trimester III, adanya defisiensi faktor lipo tropik disertai kebutuhan janin yang meningkat akan nutrisi, menyebabkan penderita mudah jatuh dalam acute hepatic necrosis. Tampaknya keadaan giziibu hamil sangat menentukan prognose.

Berat ringan gejala hepatitis virus pada kehamilan sangat tergantung dari keadaan gizi ibu hamil. Gizi buruk khususnya defisiensi protein, ditambah pula meningkatnya kebutuhan protein untuk pertumbuhan janin, menyebabkan infeksi hepatitis virus pada kehamilan memberi gejala – gejala yang jauh lebih berat.

Hepatitis virus pada kehamilan dapat ditularkan kepada janin, baik in utero maupun segera setelah lahir. Penularan virus ini pada janin, dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu :

a. Melewati plasenta

b. Kontaminasi dengan darah dan tinja ibu pada waktu persalinan

c. Kontak langsung bayi baru lahir dengan ibunya

d. Melewati Air Susu Ibu, pada masa laktasi.

Baik virus A maupun virus B dapat menembus placenta, sehingga terjadi hepatitis virus in utero dengan akibat jalan lahir mati, atau janin mati pada periode neonatal. Jenis virus yang lebih banyak dilaporkan dapat menembus plasenta, ialah virus type B. Beberapa bukti, bahwa virus hepatitis dapat menembus plasenta, ialah ditemukannya hepatitis antigen dalam tubuh janin in utero atau pada janin baru lahir. Meskipun pada ibu – ibu yang mengalami hepatitis virus pada waktu hamil, tidak memberi gejala-gejala icterus pada bayi-nya yang baru lahir, namun hal ini tidak berarti bahwa bayi yang baru lahir tidak mengandung virus tersebut. Ibu hamil yang menderita hepatitis virus B dengan gejala – gejala klinik yang jelas, akan menimbulkan penularan pada janinnya jauh lebih besar dibandingkan dengan ibu-ibu hamil yang hanya merupakan carrier tanpa gejala klinik.

Dilaporkan, bahwa ibu hamil yang mengalami hepatitis virus B, dengan gejala yang jelas, 48% dari bayinya terjangkit hepatitis, sedang pada ibu – ibu hamil yang hanya sebagai carrier Hepatitis Virus B antigen, hanya 5% dari bayinya mengalami virus B antigenemia. Meskipun hepatitis virus, belum jelas pengaruhnya terhadap kelangsungan kehamilan, namun dilaporkan bahwa kelahiran prematur terjadi pada 66% kehamilan yang disertai hepatitis virus B. Adanya icterus pada ibu hamil tidak akan menimbulkan kern icterus pada janin. Kern icterus terjadi akibat adanya uncojugated bilirubin yang melewati placenta dari ibu – ibu hamil yang mengalami hemolitik jaundice. Bila penularan hepatitis virus pada janin terjadi pada waktu persalinan maka gejala – gejalanya baru akan nampak dua sampai tiga bulan kemudian.

2. Pengobatan

Pengobatan infeksi hepatitis virus pada kehamilan tidak berbeda dengan wanita tidak hamil.

a. Penderita harus tirah baring di rumah sakit sampai gejala icterus hilang dan billirubin dalam serum menjadi normal.

b. Makanan diberikan dengan sedikit mengandung lemak tetapi tinggi protein dan karbohidrat.

c. Pemakaian obat – obatan hepatotoxic hendaknya dihindari. Kortison baru diberikan bila terjadi penyulit. Perlu diingat pada hepatitis virus yang akan aktif dan cukup berat, mempunyai risiko untuk terjadi perdarahan post-partum, karena menurun-nya kadar vitamin K.

d. Janin baru lahir hendaknya tetap diikuti sampai periode post natal dengan dilakukan pemeriksaan transaminase serum dan pemeriksaan hepatitis virus antigen secara periodik. Janin baru lahir tidak perlu diberi pengobatan khusus bila tidak mengalami penyulit – penyulit lain.

3. Pencegahan

a. Semua ibu hamil yang mengalami kontak langsung dengan penderita hepatitis virus A hendaknya diberi imuno globulin sejumlah 0,1 cc/kg berat badan. Gamma globulin ternyata tidak efektif untuk mencegah hepatitis virus B.

b. Gizi ibu hamil hendaknya dipertahankan seoptimal mungkin, karena gizi yang buruk mempermudah penularan hepatitis virus.

c. Untuk kehamilan berikutnya hendaknya diberi jarak sekurang – kurangnya enam bulan setelah persalinan, dengan syarat setelah 6 bulan tersebut semua gejala dan pemeriksaan laboratorium telah kembali normal.

d. Setelah persalinan, pada penderita hendaknya tetap dilakukan pemeriksaan laboratorium dalam waktu dua bulan, empat bulan dan enam bulan kemudian.

PENYAKIT MENULAR SEKSUAL

A. GONORRHOE

Gonorrhea adalah penyakit menular seksual yang telah dikenal sejak lama dansampai saat ini masih merupakan masalah. Tiap tahun diperkirakan terdapat satu juta yang menderita gonorea tapi tidak bergejala,sehingga menyebabkan diagnosis dan pengobatan terlambat pada mereka. Gonorea yang tidak diobati bisa menyebabkan penyakit radang panggul atau infeksi gonorea yang tersebar.

1. Gejala

Gejala-gejala klinik yaitu :

1. Disuria ,uretiritis,servisitis,fluor albus

2. Pemeriksaan lab. Dengan sediaan apus getah uretra.

2. Gambaran klinis

Gonorea dalam kehamilan biasanya dijumpai dalam bentuk menahun,dan 60-80 % kasus adalah asymptomatic sehingga ia tidak mengetahui bahwa ia menderita penyakit.

3. Pengobatan

Dengan menggunakan penisilin ,dan apabila penderita tidak tahan ( alergi ) penisilin,dapat diberikan secara desensitisasi kecuali kasus-kasus resistensi. Procaine penicillin G dalam larutan air sekali suntik.

B. SIFILIS

Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh treponema pallidum. Kuman yang memiliki ukuran sangat kecil ini dapat hidup hampir di seluruh bagian tubuh. Sifilis mempunyai pengaruh pada kehamilan yaitu :

1. Infeksi pada janin setelah 16 minggu

2. Kematian janin,partus immaturus atau prematurus

3. Bayi lahir dengan lues congenital : Pemfingus sifilitikus,Deskwansi pada telapak tangan,Rhagade di kanan dan kiri mulut

Penularan penyakit ini bisa melalui hubungan kelamin-kelamin maupun oral seks. Infeksi ini juga dapat ditularkan oleh seorang ibu kepada bayinya selama masa kehamilan,kuman treponema pallidum yang berada di darah ibu menembus plasenta lalu masuk ke janin pada kehamilan 10 minggu. Bila tidak terawatt penyakit sifilis dapat menyebabkan efek serius seperti kerusakan system saraf,jantung,dan otak. Penyakit ini menular melalui kontak langsung yanginfeksius. Kuman masuk lewatb kulit yang rusak,kemudian menghasilkan reaksi radang.

1. Gejala sifilis

Gejala awalnya adalah :

a. Timbul borokatau luka pada alat kelamin,

b. Tidak nyeri,

c. Terasa keras bila diraba,

Selama 2-3 tahun pertama penyakit pertama ini tida menunjukkan gejala apa-apa. Setelah 4-10 tahun penyakit sifilis akan menyerang susunan saraf otak,pembuluh darah dan jantung.

2. Gambaran klinis

Perjalanan klinis penyakit ini mempunyai beberapa stadium,antara lain :

a. Stadium I atau sifilis primer

Masa inkubasi sekitar 3 minggu,pada stadium awal,timbul suatu luka atau borok dikelamin yang mempunyai sifat khusus yaitu tidak nyeri.

b. Stadium II atau sifilis sekunder

Terjadi sekitar 6-8 minggu kemudian,pada stadium II terdapat tanda di kulit yang muncul kurang lebih 4-10 minggu,bisa berupa bercak kemerahan ditelapak tangan kaki atau wajah.

c. Sifilis laten

Fase ini tidak ada gejala klinis tetapi pemeriksaan darah positif yang terjadi kurang dari 1 tahun stadium primer.

d. Stdium tersier

Muncul setelah 3-10 tahun diberbagai tempat,termasuk dikulit,dimana terjadi ulkus setelah ada kerusakan jaringan kartilago dan jaringan ikat dibawahnya,pada stadium ini.

3. Terapi

Pengobatan untuk penderita sifilis di bagi menjadi 2 yaitu :

a. Pengobatan non-farmakologi,pada pasien yang terinfeksi sifilis harus berhenti melakukan aktifitas seksualnya sampai sifilisnya benar-benar sembuh dan juga dalam melakukan hubungan seksual hendaknya jangan berganti-ganti pasangan.

b. Pengobatan secara farmakologi

Yaitu mengunakan antibiotic penisilin,penisilin bersifat bakteriosid dan bekerja dengan cara menghambat sintesis dinsing sel.

4. Efek samping

Efek samping yang sering terjadi reaksi alergi berupa urtikaria,demam,nyeri sendi,angioudem,syok anafilaksis pada pasien yang alergi,dan diare pada pemberian secara peroral.

5. Prognosis

Kemungkinan terburuk dari penyakit ini adalah terserang penyakit PMS lain. Jika tidak dirawat,walaupun secara fisik sudah sembuh,dapat kambuh lagi. Sifilis dapat mempengaruhi pembentukan fetus pada wanita hamil.

C. HIV / AIDS

HIV,virus penyebab AIDS,dapat menular dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya. Tanpa upaya pencegahan,kurang-lebih 30 % bayi dari ibu yang terinfeksi HIV menjadi tertular juga.

Infeksi dapat terjadi kapan saja selama kehamila,namun biasanya terjadibeberapa beberapa saat sebelum atau selama persalinan. Bayi lebih mungkin terinfeksi bila proses persalinan berlangsung lama.

1. Tanda dan Gejala

Aids merupakan manifestasi lanjut HIV. Selama stadim HIV individu bisa saja merasa sehat dan tidak curiga bahwa mereka menderita penyakit. Pada stadium lebih lanjut, system imun individu tidak mampu lkagi menghadapi infeksi opotunistik dan mereka terus menerus menderita penyakit minor dan mayor karena tubuhnya tidak mampu memberikan pertahanan.

2. Gambaran klinis

Tidak ada tanda-tanda khusus atau gambaran diagnostic HIV pada saat lahir, tanda-tanda klinis HIV dapat mulai muncul sampai usia 1 sekitar minggu keenam kehidupan, tetapi status HIV bayi tidak dapat dibuktikan melalui pengujian antibody sampai usia 15 hingga 18 bulan.

3. Terapi

Tentukan apakah ibu sedang mendapat atau telah mendapat terapi antietrovirus untuk HIV guna mencegah penularan ibu ke anak.

Obati bayi sesuai dengan protocol yang digunakan pada ibu sesuai kebijakan nasional. Sebagai contoh:

    1. Jika zidovudin (AZT) diberikan kepada ibu selama empat minggu sebelum kelahiran, lanjutkan memberikan AZT kepada bayi selama enam minggu setelah kelahiran ( 2 mg/kg berat badan per oral setiap enam jam )
    2. Jika ibu mendapat dosis tunggal nevirapin selama persalinan dan usia bayi kurang dari tiga hari, segera beri nevirapin suspensi 2mg/kg berat badan per oral kepada bayi.

Jadwalkan pemeriksaan tindak lanjut dalam 10 hari untuk mengkaji pemberian makan dan pertumbuhan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar