Senin, 02 Agustus 2010

Komplikasi dan Penyulit Kehamilan Trimester III


KELAINAN DALAM LAMANYA KEHAMILAN


2. POSTMATUR

- Pengertian

Kehamilan yang berlangsung melebihi 42 minggu, antara lain kehamilan memanjang, kehamilan lewat bulan, kehamilan postterm, dan pascamaturitas.

Kehamilan postmatur menurut Prof. Dr. dr. Sarwono Prawirohardjo adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu lengkap di hitung dari HPHT.

Sedangkan menurut Ida Bagus Gde Manuaba kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang melebihi waktu 42 minggu belum terjadi persalinan.

Kehamilan lewat bulan, suatu kondisi antepartum, harus dibedakan dengan sindrom pasca maturitas, yang merupakan kondisi neonatal yang didiagnosis setelah pemerikasaan bayi baru lahir.

Definisi standar untuk kehamilan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan (postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin. (Varney Helen,2007)

Keakuratan dalam memperkirakan usia kehamilan meningkat pesat sejak adanya USG yang makin banyak digunakan. Kisaran optimum variasi lama gestasi pada manusia belum diketahui hingga kini, Dan penetapan dua minggu melewati taksiran persalinan (TP) masih berubah- ubah. Meskipun insidensi kehamilan lewat bulan relatif rendah, beberapa studi menunjukkan bahwa sebagian besar induksi yang dijadwalkan dengan indikasi kehamilan lewat bulan faktanya kurang dari 42 minggu berdasarkan hitungan dengan USG. Akibatnya induksi yang menjadi bersifat relatif.

- Etiologi

Etiologinya msih belum pasti. Faktor yang dikemukakan adalh hormonal yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang ( Mochtar, Rustam, 1999). Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada darah janin. Selain itu, kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta juga diduga berhubungan dengan kehamilan lewat waktu.

Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu, kemudian menurun setelah 42 minggu, terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta. Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%.Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi. Keadaan-keadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin. Risiko kematian perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi : 30% prepartum, 55% intrapartum, 15% postpartum

- Prognosis

Beberapa ahli dapat menyatakan kehamilan lewat bulan bila lebih dari 41 minggu karena angka mordibitas dan mortalitas neonatus meningkat setelah usia 40 minggu. Namun kurang lebih 18 % kehamilan akan berlanjut melebihi 41 minggu hingga 7% akan menjadi 42 minggu bergantung pada populasi dan kriteria yang digunakan.

Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan postmatur diperlukan deteksi sedini mungkin untuk menghindari kesalahan dalam menentukan usia kehamilan.Jika Tp telah ditentukan pada trimester terakhir atau berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan.Data yang terkumpul sering menunjukkan peningkatan resiko lahir mati seiring peningkatan usia kehamilan lebih dari 40 minggu.

Penyebab lahir matinya tidak mudah dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang pendekatan yang paling tepat guna mencegah kematian tersebut. (Varney, Helen, 2007)
Apabila diambil batas waktu 42 minggu frekuensinya adalah 10,4 – 12%. Apabila diambil batas waktu 43 minggu frekuensinya adalah 3,4 -4% (Mochtar,Rustam,1998)

- Diagnosis

1. Bila tanggal hari pertama haid terakhir dicatat dan diketahui wanita hamil, diagnosis tidak sukar

2. Bila wanita tidak tahu, lupa atau tidak ingat, atau sejak melahirkan yang lalu tidak dapat haid dan kemudian menjadi hamil, hal ini akan sukar memastikannya. Hanyalah dengan pemeriksaan antenatal yang teratur dapat diikuti tinggi dan naiknya fundus uteri, mulainya gerakan janin dan besarnya janin dapat membantu diagnosis.

3. pemeriksaan berat badan ibu diikuti, kapan menjadi berkurang, begitu pula lingkaran perut dan jumlah air ketuban apakah berkurang.

4. Pemeriksaan rontgenologik: dapat dijumpai pusat-pusat ppenulangan pada bagian distal femur, bagian proksimal tibia, tulang kuboid, diameter biparetal 9,8 cm atau lebih.

5. ultrasonografi: ukuran diameter biparetal, gerakan janin, dan jumlah air ketuban.

6. Pemeriksaan sitologik air ketuban: air ketuban dengan amniosentesis baik transvaginal maupun transabdominal. Air ketuban akan bercampur lemak dari sel-sel kulit yang dilepas janin setelah kehamilan mencapai lebih dari 36 minggu. Air ketuban yang diperoleh dipulas dengan sulfat biru Nil, maka sel-sel yang mengandung lemak akan berwarna jingga. Bila:

· Melebihi 10% = kehamilan di atas 36 minggu

· Melebihi 50% = kehamilan di atas 39 minggu

7. Amnioskopi: melihat derajat kekeruhan air ketuban, menurut warnanya karena dikeruhi mekonium.

8. Kardiotokografi: mengawasi dan membaca denyut jantung janin, karena insufisiensi plasenta.

9. Uji oksitosin (stress test): yaitu dengan infuse tetes oksitosin dan diawasi reaksi janin terhadap kontraksi uterus. Jika ternyata reaksi janin kurang baik, hal ini mungkin janin akan berbahaya dalam kandungan.

10. Pemeriksaan kadar estriol dalam urin.

11. Pemeriksaan pH darah kepala janin.

12. Pemeriksaan sitologi vagina

- Tanda-tanda bayi postmatur

1. Biasanya lebih berat dari bayi matur.

2. Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur.

3. Rambut lanugo hilang atau sangat kurang.

4. Verniks kaseosa di badan kurang.

5. kuku-kuku panjang.

6. Rambut kepala agak tebal.

7. Kulit agak pucat dengan deskuamsi epitel.

- Pengaruh terhadap ibu dan janin

1. Terhadap Ibu:

Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosia karena

· Aksi uterus tidak terkoordinir

· Janin besar

· Moulding (moulage) kepala kurang

Maka akan sering dijumpai: partus lama, kesalahan letak, insersio uteri, distosia bahu, dan perdarahan postpartum. Hal ini akan menaikkan angka morbiditas dan mortalitas.

2. Terhadap janin:

Jumlah kematian janin/bayi pada kehamilan 43 minggu 3 kali lebih besar dari kehamilan 40 minggu, karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Pengaruh postmaturitas pada janin bervariasi: berat badan janin dapat bertambah besar, tetap, dan ada yang berkurang, sesudah kehamilan 42 minggu. Ada pula yang bisa terjadi kematian janin dalam kandungan

- Penatalaksanaan

1. Setelah usia kehamilan lebih dari 40-42 minggu yang penting adalah monitoring janin sebaik-baiknya.

2. Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiensi plasenta, persalinan spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat.

3. Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah matang boleh dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa amniotomi.

4. Bila: (a) riwayat kehamilan yang lalu ada kematian janin dalam rahim, (b) terdapat hipertensi, pre-eklamsi, dan (c) kehamilan ini adalah anak pertama karena infertilitas, atau (d) pada kehamilan lebih dari 40-42 minggu, maka ibu dirawat di rumah sakit.

5. Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada (a) sufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang; (b) pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi gawat janin; atau (c) pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklamsi, hipertensi menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin.

6. Pada persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat merugikan bayi; janin postmatur kadang-kadang besar; dan kemungkinana disproporsi sefalo-pelvik dan distosia janin perlu dipertimbangkan. Selain itu janin postmatur lebih peka terhadap sedative dan narkosa, jadi pakailah anestesi konduksi. Jangan lupa, perawatan neonatus postmaturitas perlu dibawah pengawasan dokter anak.

Komplikasi dan Penyulit Kehamilan Trimester III

KELAINAN DALAM LAMANYA KEHAMILAN

1. PREMATUR

- Pengertian

· Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu ( antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram ( Manuaba, 1998 : 221)

· Menurut Holmer dan De Snoo bayi prematur adalah bayi yang lahir dengan kehamilan antara 28-38 minggu dan menurut Greenhill bayi premature aialah bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gr.

Walaupun kecil, bayi prematur ukurannya sesuai dengan masa kehamilan tetapi perkembangan intrauterin yang belum sempurna dapat menimbulkan komplikasi pada saat post natal. Bayi baru lahir yang mempunyai berat 2500 gram atau kurang dengan umur kehamilan lebih dari 37 minggu disebut dengan kecil masa kehamilan, ini berbeda dengan prematur, walaupun 75% dari neonatus yang mempunyai berat dibawah 2500 gram lahir prematur.

- Etiologi

Mengenai penyebab belum banyak yang di ketahui :

1. Eastman = kausa prematur 61,9% kausa ignota (sebab yang tidak diketahui)

2. Greenhill = kausa premature 60 % kausa ignota (sebab yang tidak diketahui).

3. Holmer = sebagian besar tidak di ketahui.( Mochtar , 1998 : 219 )

Faktor – faktor yang mempengaruhi persalinan preterm
Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya persalinan preterm dapat diklasifikasikan secara rinci sebagai berikut :Menurut Manuaba (1998 : 221)

1. Kondisi umum

2. Keadaan sosial ekonomi rendah

3. Kurang gizi

4. Anemia.

5. Perokok berat, dengan lebih dari 10 batang/ hari.

6. Umur hamil terlalu muda kurang dari atau terlalu tua di atas 35 tahun.

7. Penyakit ibu yang menyertai kehamilan seperti hipertensi, toxemia, placenta previa, abruption placenta, incompetence cervical, janin kembar, malnutrisi dan diabetes mellitus.

8. Penyulit kebidanan

9. Persalinan sebelum waktunya atau induced aborsi

10. Penyalahgunaan konsumsi pada ibu seperti obat-obatan terlarang, alkohol, merokok dan caffeine

Perkembangan dan keadaan hamil dapat meningkatkan terjadinya persalinan preterm diantaranya:

1. Kehamilan dengan hidramnion, ganda, pre-eklampsia.

2. Kehamilan dengan perdarahan antepartum pada solusio plasenta, plasenta previa, pecahnya sinus marginalis.

3. Kehamilan dengan ketuban pecah dini: terjadi gawat janin, temperatur tinggi.

4. Kelainan anatomi rahim

5. Keadaan rahim yang sering menimbulkan kontraksi dini : Serviks inkompeten karena kondisi serviks, amputasi serviks.

6. Kelainan kongenital rahim:

7. Infeksi pada vagina aseden (naik) menjadi amnionitis

Sedangkan menurut Mochtar (1998 : 220), faktor yang mempengaruhi Prematuritas adalah sebagai berikut:

1. Umur ibu, suku bangsa, sosial ekonomi

2. Bakteriura (infeksi saluran kencing )

3. BB ibu sebelum hamil, dan sewaktu hamil

4. Kawin dan tidak kawin: Tak syah 15 % prematur; kawin sah 13 % prematur

5. Prenatal ( antenantal ) care

6. Anemia, penyakit jantung

7. Jarak antara persalinan yang terlalu rapat

8. Pekerjaan yang terlalu berat sewaktu hamil berat

9. Keadaan dimana bayi terpaksa dilahirkan prematur, misalnya pada plasenta praevia, toksemia gravidarum, solusio plasentae, atau kehamilan ganda

- Gejala

Gambaran fisik bayi prematur:

· Ukuran kecil

· Berat badan lahir rendah (kurang dari 2,5 kg)

· Kulitnya tipis, terang dan berwarna pink (tembus cahaya)

· Vena di bawah kulit terlihat (kulitnya transparan)

· Lemak bawah kulitnya sedikit sehingga kulitnya tampak keriput

· Rambut yang jarang

· Telinga tipis dan lembek

· Tangisannya lemah

· Kepala relatif besar

· Jaringan payudara belum berkembang

· Otot lemah dan aktivitas fisiknya sedikit (seorang bayi prematur cenderung belum memiliki garis tangan atau kaki seperti pada bayi cukup bulan)

· Refleks menghisap dan refleks menelan yang buruk

· Pernafasan yang tidak teratur

· Kantung zakar kecil dan lipatannya sedikit ( anak laki – laki )

· Labia mayora belum menutupi labia minora ( pada anak perempuan).

- Kondisi Yang Menimbulkan Kontraksi

Ada beberapa kondisi ibu yang merangsang terjadinya kontraksi spontan, kemungkinan telah terjadi produksi prostaglandin :

1. Kelainan Bawaan Uterus

2. Meskipun jarang tetapi dapat dipertimbangkan hubungan kejadian partus preterm dengan kelainan uterus yang ada.

3. Ketuban Pecah Dini

4. Ketuban pecah mungkin mengawali terjadinya kontraksi atau sebaliknya. Ada beberapa kondisi yang mungkin menyertai seperti serviks inkompeten, Hidramnion, kehamilan ganda, infeksi vagina dan serviks, dan lain-lain, infeksi asenden merupakan teori yang cukup kuat dalam mendukung terjadinya amnionitis dan ketuban pecah.

5. Serviks Inkompeten

Hal ini juga mungkin menjadi penyebab abortus selain partus preterm , riwayat tindakan terhadap serviks dapat dihubungkan dapat terjadinya inkompeten. Mc Donald menemukan 59 % pasiennya pernah mengalami dilatasi kuretase dan 8 % mengalami konisasi, Demikian pula Chamberlain dan Gibbings yang menemukan 60 % dari pasien serviks inkompeten pernah mengalami abortus spontan dan 49 % mengalami pengakhiran kehamilan pervaginam.

6. Kehamilan Ganda

8. Sebanyak 10 % pasien dengan persalinan preterm ialah kehamilan ganda dan secara umum kehamilan ganda mempuyai panjang usia gestasi yang lebih pendek.( Wiknjosastro et. al., 2002 : 313 )

- Penanganan Persalinan Preterm

Penanganan Umum

1. Lakukan evaluasi cepat keadaan ibu.

2. Upayakan melakukan konfirmasi umur kehamilan bayi.
Prinsip Penanganan.

1. Coba hentikan kontraksi uterus atau penundaan kehamilan atau.

2. Persalinan berjalan terus dan siapkan penanganan selanjutnya.
( Saifuddin et.al., 2002 : 302 ).

- Kelahiran Prematur

Kelahiran harus dilaksanakan secara hati-hati dan perlahan-lahan untuk menghindari kompresi dan dekompresi kepala secara cepat.

Oksigen diberikan lewat masker kepada ibu selama kelahiran.

Ketuban tidak boleh dipecahkan secara artifisial.

Kantongv ketuban berguna sebagai bantal bagi tengkorak prematur yang lunak dengan sutura-suturanya yang masih terpisah lebar.

Episiotomi mengurangi tekananv pada cranium bayi.

Forceps rendah dapat membantu dilatasi bagian lunak jalan lahir dan mengarahkan kepala bayi lewat perineum. Kami lebih menyukai kelahiran spontan kalau keadaannya memungkinkan.

Ekstraksi bokong tidak boleh dilakukan. Bahaya tambahan pada kelahiran prematur adalah bahwa bokong tidak dapat menghasilkan pelebaran jalan lahir yang cukup untuk menyediakan ruang bagi kepala bayi yang relatif besar.
Kelahiran presipitatus dan yang
v tidak ditolong berbahaya bagi bayi-bayi prematur.
Seorang ahli neonatus harus hadir pada saat kelahiran.(Oxorn, 2003 : 588).

Pencegahan Persalinan Preterm

Secara teknis kebidanan persalinan preterm dapat dicegah melalui hal – hal sebagai berikut :

Hal – hal yang dapat dicegah

1. Menurunkan atau mengobati

Anak terlalu rapat dicegah dengan kontrasepsi.

2. Pekerjaan sewaktu harus diistirahatkan dan jangan terlalu berat.

3. Bila dijumpai partus prematurus habitualis diperiksa WR dan VDRL bila hamil banyak istirahat atau dirawat.

Hal – hal yang tidak dapat dicegah ;

1. Kausa ignota (sebab yang tidak diketahui).

2. Vaktor Ovum.

3. Tempat insersi plasenta.

4. Insersi tali pusat.

5. Plasenta previa.

6. Congenital anomaly.

7. Hamil ganda.

8. Suku bangsa.

9. Hidrorea / Hydrorrhoe (pengeluaran cairan dari vagina selama kehamilan)