Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Abdul Bari. S, dkk, 2002)
1.Pembagian Masa Nifas
Nifas dibagi dalam 3 periode :
Puerperium dini, yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
Puerperium intermedial, yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalis yang lamanya 6 - 8 minggu.
Remote Puerperium, waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.
Periode post partum menyebabkan stress emosional terhadap ibu baru bahkan lebih menyulitkan bila terjadi perubahan fisik yang hebat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi suksesnya masa transisi ke masa menjadi orang tua pada masa post partum adalah :
-Respon dan dukungan keluarga dari teman
-Hubungan dari pengalaman melahirkan terhadap harapan dan aspirasi
-Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu
-Pengaruh budaya
Adaptasi psikososial pada waktu post partum di bagi menjadi 3 periode :
a.Periode Taking In.
1)Periode ini terjadi 1-2 hari sesudah melahirkan. Ibu baru pada umumnya pasif dan tergantung, kekhawatiran akan tubuhnnya.
2)Ia akan mungkin mengulang pengalamannya pada waktu bersalin dan melahirkan.
3)Tidur sangat penting bila ibu ingin mencegah gangguan tidur, pusing, iritable, interverensi dengan proses pengembalian keadaan normal.
4)Peningkatan nutrisi mungkin dibutuhkan karena selera makan ibu biasanya berkurang, berkurangnya nafsu makan menandakan pengendalian kondisi ibu yang tidak berlangsung normal.
b.Periode Taking Hold.
1)Periode ini berlangsung pada hari ke 2-4 hari post partum. Ibu menjadi perhatian pada kemampuannya menjadi orang tua yang sukses dan mcningkatkan tanggung jawab terhadap bayinya.
2)Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya, BAD, BAK, kekuatan dan ketahanan tubuhnya.
3)Ibu berusaha keras untuk menguasai tentang keterampilan perawatan bayi misalnya menggendong, menyusui, memandikan dan memasang popok.
Pada masa ini ibu agak sensitif dan merasa tidak mahir dalam melakukan hal-hal tersebut cenderung menerima nasehat bidan atau perawat karena ia terbuka untuk menerima pengetahuan dan kritikan yang bersifat pribadi. Pada tahap ini bidan penting memperhatikan perubahan yang mungkin terjadi.
c.Periode Letting Go.
1)Periode ini biasanya setelah pulang ke rumah dan sangat berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarga.
2)Ibu mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayi, ia harus beradaptasi terhadap kebutuhan bayi yang sangat tergantung yang menyebabkan berkurangnya hak ibu, kebebasan dan hubungan sosial.
3)Defresi post partum umumnya terjadi pada periode ini.
Defresi post partum
1.Banyak ibu mengalami perasaan “Let Down” setelah melahirkan, sehubungan dengan seriusnya pengalaman waktu melahirkan dan keraguan akan kemampuan untuk mengatasi secara efektif dalam membesarkan anak.
2.Umumnya defresi ini sedang dan mudah berubah, dimulai 2-3 hari setelah melahirkan dan dapat diatasi antara 1-2 minggu kemudian.
3.Jarang, agak jarang defresi sedang mengalami sikosis post partum atau menjadi patologis.
Peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas
Bidan memiliki peranan yang unik di dalam merawat dan memberikan manajemen kebidanan dari seorang ibu dan keluarga selama proses kelahiran. Bidan dapat memberikan baik terhadap fisik ataupun psikologis ibu atas pengalamannya melalui kepekaan dan keahlian yang tepat. Bidan dapat memberikan informasi yang tepat mengenai kebutuhan ibu selama masa post partum. Asuhan yang dapat diberikan bidan terhadap kebutuhan ibu dan bayi antara lain :
-mendukung dan memantau kesehatan fisik ibu dan bayi
-mendukung dan memantau kesehatan psikologis,emosi dan sosialserta memberikan semangat pada ibu
-membantu ibu dalam menyusui bayinya dengan memberikan manfaat AS1 eksklusif
-membantu dalam hubungan ibu dan bayinya serta penerimaan bayinya dalam keluarga
-membantu kepercayaan diri ibu dalam pelaksanaan sebagai ibu
-mendukung pendidikan kesehatan termasuk dalam peranannya sebagai orang tua.
Bidan juga dapat berperan sebagai teman bagi ibu dan keluarga dengan memberikan nasehat diantaranya :
·Bagi Ibu
a.Ibu dianjurkan untuk mendidik dirinya. Bila ada sejarah depresi dalam keluarga atau dirinya sendiri, maka anda beresiko mengalami depresi setelah melahirkan.
b.Terimalah apa yang ada rasakan atau mood swings merupakan hal yang normal setelah melahirkan, demikian Sharon Thomason, Ph. D. Seorang ahli psikologi di jaringan CIGNA Behavioral Health. Ijinkan diri anda untuk berbicara mengenai perasaan-perasaan anda, baik yang negatif maupun positif.
c.Berterus teranglah, Dr. Thomason mengusulkan “Mintalah pertolongan sehubungan dengan bayi baru anda, tidak saja untuk hal yang bersifat fisik tapi juga dukungan emosional”
·Bagi Keluarga
a.Jadilah penuh pengertian, “dengarkanlah perasaaan seorang ibu, tetapi jangan mencobamemperbaikinya. Katakan padanya bahwa anda mcncintainya”.
b.Waspadalah sympton-sympton depresi. Tanyakan pada ibu apa yang ia rasakan apakah ia bisa makan dan minum dengan nyaman.
Ilmu Faal Psikologi dan Manajemen Nifas
Nifas adalah masa 6 minggu setelah dikelurkannya plasenta. Sejak waktu itu sejumlah perubahan psikologis dan fisiologis berlangsung. Organ/bagian badan reproduksi kembali ke bukan status hamil, berbeda dengan perubahan psikal selama kehamilan, yaitu siklus masa menyusui anak yang membentuk hubungan erat antara bayi dan orang tuanya, dimana sang ibu memulihkan diri dan tekanan kepedulian pada pemeliharaan bayinya, seperti kepedulian mengasuh bayinya, sepanjang masa nifas harus berdasarkan pada 3 prinsip utama, yaitu :
oMempromosikan fisik
oDari keluarga ibu dan bayi memberi harapan kepada metode bunyi
oMemberi bayi makan serat dan mempromosikan perkembangan maternal anak, baik berhubungan dengan pendukung dan memperkuat keyakinan ibu pada dirinya dan memungkinkannya untuk memenuhinya pengasuhan kepada personil keluarga atau situasi budaya tertentu.
Oxytosin oleh kelenjar pituitari dan bertindak sesuai dengan muskulus berkenaan kandungan dan atas jaringan tipis dada sepanjang langkah yang tenaga kerja tindakan oxytosin menyempurnakan separasi plasenta kemudian berlanjut untuk bertindak sesuai dengan serat otot yang berkenaan dengan kandungan mengurangi menuju plasenta dan mencegah haemorrhage di dalam wanita yang memilih untuk menyusui bayi mereka yang masih menyusui untuk bayi merangsang pengeluaran oxytosin lebih lanjut ini membantu untuk melancarkan keluarnya air susu. Setelah plasenta keluar siklus tingkat manusia gonadotropin chorionic plasenta lactogen estrogen dan progesteron menurun dengan cepat dan ini menyempurnakan sejumlah perubahan fisiologis. Di dalam estrogen mengizinkan prolactin yang mana rahasia oleh kelenjar pitutari yang di depan untuk bertindak sesuai dengan alveoli dada untuk merangsang produksi memerah susu wanita. Yang menyusui tingkatan prolaktin sisa angkatan tinggi. Penerusan rangsangan kantung di dalam indung telur adalah menindas wanita-wanita yang tidak menyusui. Tingkatan siklus prolaktin jatuh pada 14-12 hari kelahiran. Rahasia hormon merangsang kelenjar pitutos yang di depan untuk bertindak sesuai dengan indung telur yang mendorong ke arah resumpation tentang pola teladan normal dan progestron pertumbuhan kantung produksi ovulasi dan haid.
POST PARTUM BLUES
A.Pengertian
Saat-saat mcmbahagiakan bagi ibu yang baru saja bersalin adalah melihat, memeluk dan mencium bayinya. Namun perasaan bahagia sering diselingi munculnya keluhan psikis maupun fisik.
Melahirkan adalah karunia terbesar bagi wanita dalam hidupnya. Sayangnya tak semua menganggap seperti itu, bahkan ada juga wanita yang mengalami depresi setelah melahirkan. Depresi ini dalam bahasa kedokterannya adalah depresi postpartum blues atau baby blues.
Postpartum blues atau baby blues merupakan kesedihan atau kemurungan setelah melahirkan, biasanya hanya muncul sementara waktu yakni sekitar dua hari hingga dua minggu sejak kelahiran bayi.
Mereka akan mengalami perasaan depresi, kesulitan untuk berkonsentrasi, selera makan yang berubah (bisa lebih banyak atau berkurang sama sekali), jadi susah tidur meskipun si bayi tidur nyenyak, gampang tersinggung, timbul perasaan sedih dan bersalah. Biasanya semua keluhan ini akan terlihat sekitar 3-4 hari setelah melahirkan dan berlangsung sampai sekitar beberapa hari sesudahnya.
Sebetulnya ini merupakun hal yang normal dan akan hilang dengan sendirinya sekitar 10-14 hari setelah melahirkan. Tapi ada juga yang mengalami gejala yang lebih berat dan berlangsung lebih lama, yang dinamakan dengan postpartum depression.
B.Etiologi
Perubahan Hormon
Stress
ASI tidak keluar
Frustasi karena bayi tidak mau tidur, nangis dan gumoh
Kelelahan pasca melahirkan, dan sakitnya akibat operasi
Suami yang tidak membantu, tidak mau mengerti perasaan istri maupun persoalan lainnya dengan suami
Problem dengan Orangtua dan Mertua
Takut kehilangan bayi
Sendirian mengurus bayi, tidak ada yang membantu
Takut untuk memulai hubungan suami istri (ML), anak akan terganggu
Bayi sakit (Kuning, dan lain-lain).
Rasa bosan si Ibu
Problem dengan si Sulung
Meskipun ada sebagian wanita yang langsung merasa tertekan setelah melahirkan, ada juga yang baru akan merasakannya setelah beberapa minggu atau bulan kemudian. Perasaan depresi yang terjadi setelah 6 bulan setelah melahirkan kemungkinan besar adalah merupakan suatu postpartum depression.
Tidak jarang, ada beberapa kasus yang mengarah kepada postpartum psikosis. Ini adalah suatu penyakit yang serius karena semua gejala postpartum depression akan timbul dan tidak jarang akan berakhir dengan menyakiti diri sendiri dan bahkan sampai membahayakan nyawa sang bayi.
Postpartum depression bisa terjadi jika mengalami hal-hal dibawah ini :
Previous postpartum depression
Depresi yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan
Premenstrual syndrome (PMS) yang berat
Hubungan pernikahan yang tidak harmonis
Tidak mempunyai sanak saudara atau teman yang bisa diajak curhat
Kehidupan yang sulit selama kehamilan atau sesudah melahirkan (misalnya mengalami penyakit berat selama kehamilan, bayi premature atau proses kelahiran yang complicated)
C.Gcjala
Berbagai hal berikut merupakan gejala gangguan psikologis yang biasanya dialami ibu setelah bersalin :
1.Merasa bosan, sedih, bahkan menangis sesudah melahirkan, ibu merasa ‘bosan’ karena yang dihadapinya sehari-hari hanyalah seputar perawatan dan pengasuhan bayi yang cukup merepotkan. Apalagi jika tidak ada siapapun yang membantu. Di sisi lain, bayi yang semula manis kini sering rewel dan menangis tiada hentinya. Semua cara sudah dikerahkan tapi si kecil tetap saja menangis. Rasa keccwa atau kesal bercampur aduk karena segala upaya yang sudah dilakukan ternyata tak membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
2.Mudah marah, tersinggung dan persaan lebih sensitif kala melihat bayi menangis, sering muntah, dan sebagainya, ibu sccara tak sadar malah memarahi atau membentak si kecil. Di sisi lain, suami biasanya bingung kenapa isterinya jadi sensitif dan mudah tersinggung, dan menimbulkan ibu semakin kesal pada suami, orang tua, dan mertua jika mereka tidak membantu menyelesaikan masalah. Di sisi lain, ibu mungkin kurang terbuka atau enggan mengemukakan kendala yang sedang dialami. Sebenarnya, karena tidak pernah curhat itulah, orang-orang terdekat jadi tak memahaminya apa sebenarnya yang tengah dirasakan. Pada akhirnya terjadi konflik dengan suami, orang tua, atau mertua.
3.Merasa terasing, bersalah, dan malu selama berada di RS, begitu usai melahirkan, ibu mendapatkan perhatian penuh dari keluarga, kerabat, teman dan lainnya. Namun, bagitu pulang ke rumah, kondisi bisa berubah 180 derajat. Ibu kurang mendapat perhatian dari lingkungan terdekat dan harus mengurus si bayi lebih intens dari siapa pun karena suami mulai kembali sibuk bekerja. Masalah bisa makin bertumpuk tatkalaibumenemuikesulitandalammemberikanASImisalnya, sementara tuntutan mengurus kebutuhan suami dan diri sendiri harus tetapdipenuhi.Bayangansemulayangterasamenyenangkan kini menyergap dalam bentuk aneka kerepotan.Akibatnyaibu merasa terasing.Belumlagibilaorangtuaataumertuabanyakmemberi komentar atau terlalu ikut campur soal pengurusan anak hanya karena merasa lebih berpengalaman. Hal-hal semacam ini gampang membuat ibu semakin bingung. Dalam hati, muncul rasa bersalah sekaligus malu dikomentari kurang terampil mengurus anak dan sebagainya.
D.Penanganan
Pelajari diri sendiri
Pelajari dan mencari informasi mengenai depresi postpartum, sehingga Anda sadar terhadap kondisi ini. Apabila terjadi, maka Anda akan segera mendapatkan bantuan secepatnya.
Tidur dan makan yang cukup
Diet nutrisi cukup penting untuk kesehatan, lakukan usaha yang terbaik dengan makan dan tidur yang cukup. Keduanya penting selama periode postpartum dan kehamilan.
Olahraga
Olahraga adalah kunci untuk mengurangi postpartum. Lakukan peregangan selama 15 menit dengan berjalan setiap hari, sehingga membuat Anda merasa lebih baik dan menguasai emosi berlebihan dalam diri Anda.
Hindari perubahan hidup sebelum atau sesudah melahirkan
Jika memungkinkan, hindari membuat keputusan besar seperti membeli rumah atau pindah kerja, sebelum atau setelah melahirkan. Tetaplah hidup secara sederhana dan menghindari stress, sehingga dapat segera dan lebih mudah menyembuhkan postpartum yang diderita.
Beritahukan perasaan Anda
Jangan takut untuk berbicara dan mengekspresikan perasaan yang Anda inginkan dan butuhkan demi kenyamanan Anda sendiri. Jika memiliki masalah dan merasa tidak nyaman terhadap sesuatu, segera beritahukan pada pasangan atau orang terdekat.
Dukungan keluarga dan orang lain diperlukan
Dukungan dari keluarga atau orang yang Anda cintai selama melahirkan, sangat diperlukan. Ceritakan pada pasangan atau orangtua Anda, atau siapa saja yang bersedia menjadi pendengar yang baik. Yakinkan diri Anda, bahwa mereka akan selalu berada di sisi Anda setiap mengalami kesulitan.
Persiapkan diri dengan baik
Persiapan sebelum melahirkan, sangat diperlukan. Ikutlah kelas senam hamil yang sangat membantu, serta buku atau artikel lainnya yang Anda perlukan. Kelas senam hamil akan sangat membantu Anda dalam mengetahui berbagai informasi yang diperlukan, sehingga nantinya Anda tak akan terkejut setelah keluar dari kamar bersalin. Jika Anda tahu apa yang diinginkan, pengalaman traumatis saat melahirkan akan dapat dihindari.
Lakukan pekerjaan rumah tangga
Pekerjaan rumah tangga sedikitnya dapat membantu Anda melupakan golakan perasaan yang terjadi selama periode postpartum. Kondisi Anda yang belum stabil, bisa Anda curahkan dengan memasak atau membersihkan rumah. Mintalah dukungan dari keluarga dan lingkungan Anda, meski pembantu rumah tangga Anda telah melakukan segalanya.
Dukungan emosional
Dukungan emosi dari lingkungan dan juga keluarga, akan membantu Anda dalam mengatasi rasa frustasi yang menjalar. Ceritakan kepada mereka bagaimana perasaan serta perubahan kehidupan Anda, hingga Anda merasa lebih baik setelahnya.
Dukungan kelompok Depresi Postpartum
Dukungan terbaik datang dari orang-orang yang ikut mengalami dan merasakan hal yang sama dengan Anda. Carilah informasi mengenai adanya kelompok depresi postpartum yang bisa Anda ikuti, sehingga Anda tidak merasa sendirian menghadapi persoalan ini.
KESEDIHAN DAN DUKA CITA
Masa nifas adalah masa 2 jam setelah lahirnya placenta sampai enam minggu berikutnya. Waktu yang tepat dalam rangka pengawasan Post Partum adalah 2-6 jam, 2 jam - 6 hari, 2 jam - 6 minggu (atau boleh juga disebut 6 jam, 6 hari dan 6 minggu ).
Pengawasan dan asuhan post partum masa nifas sangat diperlukan yang tujuannya adalah sebagai berikut :
1.Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologi.
2.Melaksanakan sekrining yang komprehensif, mendeteksi masalah mengobati, atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
3.Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi pada saat bayi sehat.
4.Memberikan pelayanan KB.
Gangguan yang sering terjadi pada masa nifas berupa gangguan psikologis seperti Post Partum Blues (PPS), depresi post partum dan post partum psikologi.
Kekecewaan emosional yang mengikuti rasa puas dan takut yang dialami kebanyakan wanita karena adanya perubahan peran. Rasa sakit yang timbul pada masa nifas awal. Kelelahan karena kurang tidur selama persalinan dan post partum. Kecemasan pada kemampuan untuk merawat bayinya. Rasa takut menjadi tidak menarik lagi bagi suaminya.
Ibu mengalami kesenduan, kepedihan hati, kekecewaan dan penderitaan batin, misalnya anak yang dilahirkan hasil diluar pernikahan, sehingga anak yang dilahirkan memberikan beban perasaan, noda-noda yang cukup berat dalam hidupnya. Jenis kelamin bayinya tidak sesuai dengan idamannya ataupun idaman suaminya atau mertuanya. Bayi yang dilahirkan mengalami kecacatan timbul perasaan tidak cinta kepada anaknya. Bagi ibu-ibu yang bercerai maka kelahiran anaknya merupakan peristiwa yang tidak menyenangkan.
Dalam menjalani adaplasi setelah melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut :
a.Fase Taking in yaitu periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat itu fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman selama proses persalinan sering berulang diceritakannya. Hal ini membuat cenderung menjadi pasif terhadap lingkungannya.
b.Fase taking hold yaitu periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Pada fase ini ibu memerlukan dukungan karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga timbul pcrcaya diri.
c.Fase letting go merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yangberlangsungsepuluhharisetelahmelahirkan.Ibusudahdapatmenyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya sudah meningkat.
Ada kalanya, ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Jika hal ini terjadi, disarankan untuk melakukan hal-hal berikut ini :
-Minta bantuan suami atau keluarga yang lain, jika membutuhkan istirahat untuk menghilangkan kelelahan.
-Beritahu suami mengenai apa yang sedang ibu rasakan. Mintalah dukungan dan pertolongannya.
-Buang rasa cemas dan kekhawatiran akan kemampuan merawat bayi karena semakin sering merawat bayi, ibu akan semakin terampil dan pcrcaya diri.
-Carilah hiburan dan luangkan waktu untuk diri sendiri.
Tumbuh membesar primer, maupun sekunder akibat pertumbuhan isi konsepsi intrauterin. Estrogen menyebabkan hiperplasi jaringan, progesteron berperan untuk elastisitas / kelenturan uterus. Taksiran kasar perbesaran uterus pada perabaan tinggi fundus :
1)tidak hamil / normal : sebesar telur ayam (+ 30 g)
Ismus uteri, bagian dari serviks, batas anatomik menjadi sulit ditentukan, pada kehamilan trimester I memanjang dan lebih kuat. Pada kehamilan 16 minggu menjadi satu bagian dengan korpus, dan pada kehamilan akhir di atas 32 minggu menjadi segmen bawah uterus. Serviks uteri mengalami hipervaskularisasi akibat stimulasi estrogen dan perlunakan akibat progesteron. Sekresi lendir serviks meningkat pada kehamilan memberikan gejala keputihan.
b.Vagina / vulva
Terjadi hipervaskularisasi akibat pengaruh estrogen dan progesteron, warna merah kebiruan.
c. Ovarium
Selama kehamilan ovarium tenang/beristirahat. Tidak terjadi pembentukan dan pematangan folikel baru, tidak terjadi ovulasi, tidak terjadi siklus hormonal menstruasi. Walaupun istilah involusi saat ini telah digunakan untuk menunjukkan kemunduran yang terjadi pada setiap organ dan saluran reproduktif, kadang lebih banyak mengarah secara spesifik pada kemunduran uterus yang mengarah ke ukurannya.
1.Sistem Reproduksi pada Masa Nifas
Dalam masa nifas, alat-alat genetalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan yang terjadi di dalam tubuh seorang wanita sangatlah menakjubkan. Uterus atau rahim yang berbobot 60 gram sebelum kehamilan secara perlahan-lahan bertambah besarnya hingga 1 kg selama masa kehamilan dan setelah persalinan akan kembali ke keadaan sebelum hamil. Seorang bidan dapat membantu ibu untuk memahami perubahan-perubahan ini.
a.Involusi Uterus
Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan bobot hanya 60 gram. Involusi uteri dapat juga dikatakan sebagai proses kembalinya uterus pada keadaan semula atau keadaan sebelum hamil. Involusi uterus melibatkan reorganisasi dan penanggalan decidua/endometrium dan pengelupasan lapisan pada tempat implantasi plasenta sebagai tanda penurunan ukuran dan berat serta perubahan tempat uterus, warna dan jumlah lochia.
vProses involusi uterus adalah sebagai berikut :
1.Iskemia Miometrium,Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus menerus dari uterus setelah pengeluaran plasenta membuat uterus relative anemi dan menyebabkan serat otot atrofi
2.Autolysis,Autolysis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterine. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga 10 kali panjangnya dari semula dan lima kali lebar dari semula selama kehamilan atau dapat juga dikatakan sebagai pengrusakan secara langsung jaringan hipertropi yang berlebihan hal ini disebabkan karena penurunan hormon estrogen dan progesteron.
3.Efek Oksitosin,Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterin sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan.
Penurunan ukuran uterus yang cepat itu dicerminkan oleh perubahan lokasi uterus ketika turun keluar dari abdomen dan kembali menjadi organ pelviks. Segera setelah proses persalinan puncak fundus kira-kira dua pertiga hingga tiga perempat dari jalan atas diantara simfisis pubis dan umbilicus. Kemudian naik ke tingkat umbilicus dalam beberapa jam dan bertahan hingga satu atau dua hari dan kemudian secara berangsur-angsur turun ke pelviks yang secara abdominal tidak dapat terpalpasi di atas simfisis setelah sepuluh hari.Perubahan uterus ini berhubungan erat dengan perubahan-perubahan pada miometrium. Pada miometrium terjadi perubahan-perubahan yang bersifat proteolisis. Hasil dari proses ini dialirkan melalui pembuluh getah bening.Decidua tertinggal dalam uterus setelah separasi dan ekspulsinplasenta dan membrane yang terdiri dari lapisan zona basalis dan suatu bagian lapisan zona spongiosa pada decidua basalis (tempat implantasi plasenta) dan decidua parietalis (lapisan sisa uterus).
vDecidua yang tersisa ini menyusun kembali menjadi dua lapisan sebagai hasil invasi leukosit yaitu :
1.Suatu degenerasi nekrosis lapisan superficial yang akan terpakai lagi sebagai bagian dari pembuangan lochia dan lapisan dalam dekat miometrium.
2.Lapisan yang terdiri dari sisa-sisa endometrium di lapisan basalis.
Endometrium akan diperbaharui oleh proliferasi epithelium endometrium. Regenerasi endometrium diselesaikan selama pertengahan atau akhir dari postpartum minggu ketiga kecuali di tempat implantasi plasenta.Dengan involusi uterus ini, maka lapisan luar dari decidua yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi nekrotik. Decidua yang mati akan keluar bersama dengan sisa cairan, suatu campuran antara darah yang dinamakan lochia, yang biasanya berwarna merah muda atau putih pucat. Pengeluaran Lochia ini biasanya berakhir dalam waktu 3 sampai 6 minggu. Pertumbuhan kelenjarpada hakekatnya mengikis pembuluh darah yang meembeku pada tempat implantasi plasenta yang menyebabkannya menjadi terkelupas dan tak dipakai lagi pada pembuangan lochia.
b.Involusi tempat plasenta
Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat dengan permukaan kasar, tidak rata dan kira-kira sebesar telapak tangan. Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir minggu ke-2 hanya sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm. Penyembuhan luka bekas plasenta khas sekali. Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh thrombus. Biasanya luka yang demikian sembuh dengan menjadi parut, tetapi luka bekas plasenta tidak meninggalkan parut. Hal ini disebabkan karena luka ini sembuh dengan cara dilepaskan dari dasarnya tetapi diikuti pertumbuhan endometrium baru di bawah permukaan luka. Endometrium ini tumbuh dari pinggir luka dan juga dari sisa-sisa kelenjar pada dasar luka.Regenerasi endometrium terjadi di tempat implantasi plasenta selama sekitar 6 minggu. Epitelium berproliferasi meluas ke dalam dari sisi tempat ini dan dari lapisan sekitar uterus serta di bawah tempat implantasi plasenta dari sisa-sisa kelenjar basilar endometrial di dalam deciduas basalis. Pertumbuhan kelenjar endometrium ini berlangsung di dalam decidua basalis. Perubahan Ligamen
Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus, setelah janin lahir, berangsur-angsur menciut kembali seperti sediakala. Tidak jarang ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan letak uterus menjadi retroflexi. Tidak jarang pula wanita mengeluh “kandungannya turun” setelah melahirkan oleh karena ligament, fasia, jaringan penunjang alat genetalia menjadi agak kendor.
c.Perubahan pada Serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks postpartum adalah bentuk serviks yang akan menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi, sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan serviks uteri terbentuk semacam cincin. Warna serviks sendiri merah kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah.Beberapa hari setelah persalinan, ostium externum dapat dilalui oleh 2 jari, pinggir-pinggirnya tidak rata tetapi retak-retak karena robekan dalam persalinan. Pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui oleh 1 jari saja, dan lingkaran retraksi berhubungan dengan bagian atas dari canalis cervikallis.Pada serviks terbentuk sel-sel otot baru yang mengakibatkan serviks memanjang seperti celah. Karena hyper palpasi ini dank arena retraksi dari serviks, robekan serviks menjadi sembuh. Walaupun begitu, setelah involusi selesai, ostium externum tidak serupa dengan keadaannya sebelum hamil, pada umumnya ostium externum lebih besar dan tetap ada retak-retak dan robekan-robekan pada pinggirnya, terutama pada pinggir sampingnya. Oleh robekan ke samping ini terbentuk bibir depan dan bibir belakang pada serviks.
d.Lochia
Dengan adanya involusi uterus, maka lapisan luar dari decidua yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi nekrotik. Decidua yang mati akan keluar bersama dengan sisa cairan. Campuran antara darah dan decidua tersebut dinamakan Lochia, yang biasanya berwarna merah muda atau putih pucat.Lochia adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat membuat organisme berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada vagina normal. Lochia mempunyai bau yang amis meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita. Secret mikroskopik Lochia terdiri dari eritrosit,peluruhan deciduas, sel epitel dan bakteri. Lochia mengalami perubahan karena proses involusi.
vPengeluaran Lochia dapat dibagi berdasarkan waktu dan warnanya diantaranya :
a.Lochia Rubra/ merah (kruenta)Lochia ini muncul pada hari 1 sampai hari ke 4 masa postpartum. Sesuai dengan namanya, warnanya biasanya merah dan mengandung darah dari perobekan/luka pada plasenta dans erabut dari deciduas dan chorion. Terdiri dari sel desidua, verniks caseosa, rambut lanugo, sisa mekoneum dan sisa darah.
b.Lochea Sanguinolenta, lochea ini muncul pada hari ke 4 sampai hari ke 7 postpartum. Cairan berwarna merah kecoklatan dan berlendir.
c.Lochia Serosa Lochia ini muncul pada hari ke 7 sampai ke 14 postpartum. Warnanya biasanya kekuningan atau kecoklatan. Lochia ini terdiri dari lebih sedikit darah dan lebih banyak serum, juga terdiri dari leukosit dan robekan laserasi plasenta.
d.Lochia Alba, Lochia ini berlangsung selama 2 sampai 6 minggu postpartum. Warnanya lebih pucat, putih kekuningan dan lebih banyak mengandung leukosit, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati.
Lochea rubra yang menetap pada awall periode postpartum menunjukkan adanya perdarahan postpartum sekunder yang mungkin disebabkan tertinggalnya sisa/selaput plasenta. Lochea serosa/alba yang berlanjut bisa menandakan adanya endometritis, terutama jika disertai demam, rasa sakit atau nyeri tekan pada abdomen. Bila pengeluaran Lochia tidak lancar maka disebut Lochiastasis. Kalau Lochia tetap berwarna merah setelah 2 minggu ada kemungkinan tertinggalnya sisa plasenta atau karena involusi yang kurang sempurna yang sering disebabkan retroflexio uteri.Lochia mempunyai suatu karakteristik bau yang idak sama dengan secret menstrual. Bau yang paling kuat pada Lochia Serosa dan harus dibedakan juga dengan bau yang menandakan infeksi.Lochia disekresikan dengan jumlah banyak pada awal jam postpartum yang selanjutnya akan berkurang sejumlah besar sebagai lochia rubra, sejumlah kecil sebagai lochia serosa dan sejumlah lebih sedikit lagi lochia alba.Umumnya jumlah lochia lebih sedikit bila wanita postpartum berada dalam posisi berbaring daripada berdiri. Hal ini terjadi akibat pembuangan bersatu di vagina bagian atas manakala wanita dalam posisi berbaring dan kemudian akan mengalir keluar manakala dia berdiri.Total jumlah rata-rata pembuangan Lochia kira-kira 8 hingga 9 oz atau sekitar 240 hingga 270 ml.
e.Perubahan pada Vulva, Vagina danPerineum
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia manjadi lebih menonjol.Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada post natal hari ke 5, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dari pada keadaan sebelum melahirkan.Ukuran vagina akan selalu lebih besar dibandingkan keadaan saat sebelum persalinan pertama. Meskipun demikian, latihan otot perineum dapat mengembalikan tonus tersebutdan dapat mengencangkan vagina hingga tingkat tertentu. Hal ini dapat dilakukan pada akhir puerperium dengan latihan harian.
B. PERUBAHAN SISTEM PENCERNAAN
1. Sistem pencernaan pada masa kehamilan
Sekresi saliva menjadi lebih asam dan lebih banyak, dan asam lambung menurun.Perbesaran uterus lebih menekan diafragma, lambung dan intestin.Pada bulan-bulan awal masa kehamilan, sepertiga dari wanita mengalami mual dan muntah.Sebagaimana kehamilan berlanjut, penurunan asam lambung, melambatkan pengosongan lambung dan menyebabkan kembung.Menurunnya gerakan peristaltik tidak saja menyebabkan mual tetapi juga konstipasi, karena lebih banyak feses tedapat dalam usus, lebih banyak air diserap akan semakin keras jadinya.Konstipasi juga disebabkan oleh tekanan uterus pada usus bagian bawah pada awal masa kehamilan dan kembali pada akhir masa kehamilan.Gigi berlubang terjadi lebih mudah pada saliva yang bersifat asam selama masa kehamilan dan membutuhkan perawatan yang baik untuk mencegah karies gigi.Pada bulan-bulan terakhir, nyeri ulu hati dan regurgitasi (pencernaan asam) merupakan ketidaknyamanan yang disebabkan tekanan keatas dari perbesaran uterus.Pelebaran pembuluh darah rektum (haemoroid dapat terjadi).Pada persalinan, rektum dan otot-otot yang memberikan sokongan sangat teregang.
2. Sistem pencernaan pada masa nifas
a. Nafsu Makan
Ibu biasanya lapar segera setelah melahirkan, sehingga ia boleh mengonsumsi makanan ringan. Ibu sering kali cepat lapar setelah melahirkan dan siap makan pada 1-2 jam post primordial, dan dapat ditoleransi dengan diet yang ringan. Setelah benar-benar pulih dari efek analgesia, anastesia, dan keletihan, kebanyakan ibu merasa sangat lapar.Permintaan untuk memperoleh makanan dua kali dari jumlah yang biasa dikonsumsi disertai konsumsi camilan yang sering ditemukan.kerapkali untuk pemulihan nafsu makan, diperlukan waktu 3 – 4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, namun asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari, gerak tubuh berkurang dan usus bagian bawah sering kosong jika sebelum melahirkan diberikan enema.
b. Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir.Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal
c.Pengosongan Usus
Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan.Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan atau dehidrasi.Ibu sering kali sudah menduga nyeri saat defekasi karena nyeri yang dirasakannya di perineum akibat episiotomi, laserasi atau hemoroid.Kebiasaan buang air yang teratur perlu dicapai kembali setelah tonus usus kembali normal.Kebiasaan mengosongkan usus secara regular perlu dilatih kembali untuk merangsang pengosongan usus.Sistem pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu yang berangsur-angsur untuk kembali normal.Pola makan ibu nifas tidak akan seperti biasa dalam beberapa hari dan perineum ibu akan terasa sakit untuk defekasi.Faktor-faktor tersebut mendukung konstipasi pada ibu nifas dalam minggu pertama.Suppositoria dibutuhkan untuk membantu eliminasi pada ibu nifas.Akan tetapi proses konstipasi juga dapat dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan ibu dan kekhawatiran lukanya akan terbuka bila ibu buang air besar.
C. PERUBAHAN SISTEM PERKEMIHAN
1.Fungsi Sistem Perkemihan
vMencapai hemostatis internal
a.Keseimbangan Cairan dan Elektrolit
Cairan yang terdapat dalam tubuh terdiri dari air dan unsur-unsur yang terlarut di dalamnya. 70 % dari air tubuh terletak di dalam sel-sel dan dikenal sebagai cairan intraselular. kandungan air sisanya disebut cairan ekstraselular. Cairan ekstraselular dibagi antara plasma darah, dan cairan yang langsung memberikan lingkungan segera untuk sel-sel yang disebut cairan interstisial.
1.Edema adalah tertimbunnya cairan dalam jaringan akibat gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh.
2.Dehidrasi adalah kekurangan cairan atau volume air yang terjadi pada tubuh karena pengeluaran berlebihan dan tidak diganti.
b.Keseimbangan asam basa tubuh
batas normal PH cairan tubuh adalah 7,35-7,40Bila PH >7,4 disebut alkalosis dan jika PH < style="" lang="IN">
c.Mengeluarkan sisa metabolisme, racun dan zat toksin
ginjal mengekskresi hasil akhir metabolisme protein yang mengandung nitrogen terutama : urea, asam urat, dan kreatinin.
2. Keseimbangan dan keselarasan berbagai proses di dalam tubuh
a. Pengaturan Tekanan Darah
menurunkan volume darah dan serum sodium (Na) akan meningkatkan serum pottasium lalu merangsang pengeluaran renin yang dalam aliran darah diubah menjadi angiotensin yang akan mengekskresikan aldosteron sehingga mengakibatkan terjadinya retensi Na+ + H2O kemudian terjadi peningkatan volume darah yang meningkatkan tekanan darah.Angiotensin juga dapat menjadikan vasokontriksi perifer yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah.
b. Perangsangan produksi sel darah merah
Dalam pembentukan sel darah merah diperlukan hormon eritropoietin untuk merangsang sumsum tulang hormon ini dihasilkan oleh ginjal.
3.Sistem Urinarius
Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi) turut menyebabkan peningkatan fungsi ginjal, sedangkan penurunan kadar sterorid setelah wanita melahirkan sebagian menjelaskan sebab penurunan funngsi ginjal selama masa pasca partum. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. diperlukan kira-kira dua sampai 8 minggu supaya hipotonia pada kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvis ginjal kembali ke keadaan sebelum hamil ( Pada sebagian kecil wanita, dilaktasi traktus urinarius bisa menetap selama tiga bulan.
4.Komponen Urine
Glikosuria ginjal diinduksikan oleh kehamilan menghilang. Laktosuria positif pada ibu meyusui merupakan hal yang normal. BUN (blood urea nitrogen), yang meningkat selama pasca partum, merupakan akibat otolisis uterus yang berinvolusi, Pemecahan kelebihan protein di dalam sel ototuterus juga menyebabkan proteinuria ringan (+1) selama satu sampai dua hari setelah wanita melahirkan. Hal ini terjadi pada sekitar 50% wanita. Asetonuria bisa terjadi pada wanita yang tidak mengalami komplikasi persalinan atau setelah suatu persalinan yang lama dan disertai dehidrasi.
5.Diuresis Postpartum
Dalam 12 jam pasca melahirkan, ibu mulai membuang kelebihan cairan yang tertimbun di jaringan selama ia hamil. salah satu mekanisme untuk mengurangi cairan yang teretensi selama masa hamil ialah diaforesis luas, terutama pada malam hari, selama dua sapai tiga hari pertema setelah melahirkan. Diuresis pascapartum, yang disebabkan oleh penurunan kadar estrogen, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tingkat bawah, dan hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan, merupakan mekanisme tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan.Kehilangan cairan melalui keringat dan peningkatan jumlah urine menyebabkan penurunan berat badan sekitar 2,5 kg selama masa pasca partum. Pengeluaran kelebihan cairan yang tertimbun selama hamil kadang-kadang disebut kebalikan metabilisme air pada masa hamil (reversal of the water metabolisme of pregnancy)
6.Uretra dan Kandung Kemih
Trauma bila terjadi pada uretra dan kandung kemih selama proses melahirkan, yakni sewaktu bayi melewati jalan lahir. Dinding kandung kemih dapat mengalami hiperemesis dan edema, seringkali disertai di daerah-daerah kecil hemoragi. Kandung kemih yang oedema, terisi penuh dan hipotonik dapat mengakibatkan overdistensi, pengosongan yang tak sempurna dan urine residual kecuali jika dilakukan asuhan untuk mendorong terjadinya pengosongan kandung kemih bahkan saat tidak merasa untuk berkemih.Pengambilan urine dengan cara bersih atau melalui kateter sering menunjukkan adanya trauma pada kandung kemih. Uretra dan meatus urinarius bisa juga mengalami edema. mih. Penurunan berkemih, seiring diuresis pascapartum, bisa menyebabkan distensi kandung kemih. Distensi kandung kemih yang muncul segera setelah wanita melahirkan dapat menyebabkan perdarahan berlebih karena keadaan ini bisa menghambat uterus berkontraksi dengan baik. pada masa pascapartum tahap lanjut, distensi yang berlebihan ini dapat menyebabkan kandung kemih lebih peka terhadap infeksi sehingga mengganggu proses berkemih normal. Apabila terjadi distensi berlebih pada kandung kemih dalam mengalami kerusakan lebih lanjut (atoni). Dengan mengosongkan kandung kemih secara adekuat, tonus kandung kemih biasanya akan pulih kembali dalam lima sampai tujuh hari setelah bayi lahir.
D. PERUBAHAN SISTEM MUSKULOSKELETAL / DIASTASIS RECTUS ABDOMINKUS
1.sistem muskuloskeletal pada masa kehamilan
a.gigi, tulang dan persendian
selama masa kehamilan wanita membutuhkan kira-kira sepertiga lebih banyak kalsium dan fosfos.Dengan diit yang seimbang kebutuhan tersebut terpenuhi dengan baik.Karies gigi tidak disebabkan oleh dekalsifikasi, sejak kalsium gigi telah dibentuk.Terdapat bukti bahwa saliva yang asam pada saat hamil membantu aktivitas penghancuran bakteri email yang menyebabkan karies.Di lain pihak, sendi pelvik pada saat kehamilan sedikit dapat bergerak.Postur tubuh wanita secara bertahap mengalami perubahan karena janin membesar dalam abdomen.Untuk mengkompensasi penambahan berat ini, bahu lebih tertarik ke belakang dan tulang belakang lebih melengkung, sendi tulang belakang lebih lentur, dapat menyebabkan nyeri punggung pada beberapa wanita.Penggunaan bantal untuk menyokong punggung mungkin dianjurkan untuk kasus ini.
b.Otot
Kram otot-otot tungkai dan kaki merupakan masalah umum selama kehamilan.Penyebabnya tidak diketahui, tetapi mungkin berhubungan dengan metabolisme kalsium dan fosfor, kurangnya drainase sisa metabolisme otot, atau postur yang tidak seimbang.Kram biasanya terjadi setelah berdiri sepanjang hari dan pada malam hari setelah tubuh beristirahat.Sedikit gerakan dan penggunaan kompres hangat dapat sedikit membantu.Aktivitas sehari-hari yang sedang dan lebih banyak waktu untuk istirahat dengan kaki dinaikan merupakan cara yang ada umumnya berhasil untuk mengurangi ketidaknyamanan ini.
2. sistem muskuloskeletel pada masa nifas
Adaptasi sistem muskuloskeletal ibu yang terjadi selama masa hamil berlangsung secara terbalik padsa masa pascapartum.Adaptasi ini mencakup hal-hal yang membantu relaksasi dan hipermobilitas sendi dan perubahan pusat gravitasi ibu akibat pembesaran rahim.Stabilisasi sendi lengkap pada minggu ke-6 sampai minggu ke-8 setelah wanita melahirkan.Akan tetapi, walaupun semua sendilain kembali normal sebelum hamil, kaki wanita tidak mengalami perubahan setelah melahirkan.
a. Dinding perut dan peritoneum
Setelah persalinan, dinding perut longgar karena diregang begitu lama, tetapi biasanya pulih kembali dalam 6 minggu. Kadang-kadang pada wanita yang asthenis terjadi diastasis dari otot-otot rectus abdominis sehingga sebagian dari dinding perut di garis tengah hanya terdiri dari peritoneum, fascia tipis dan kulit. Tempat yang lemah ini menonjol kalau berdiri atau mengejan.
b. Kulit abdomen
Kulit abdomen yang melebar selama masa kehamilan tampak melonggar dan mengendur sampai berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan yang dinamakan strie.Melalui latihan postnatal, otot-otot dari dinding abdomen seharusnya dapat normal kembali dalam beberapa minggu.
c. Striae
Striae pada dinding abdomen tidak dapat menghilang sempurna melainkan membentuk garis lurus yang samar.Ibu postpartum memiliki tingkat diastasis sehingga terjadi pemisahan muskulus rektus abdominishal tersebut dapat dilihat dari pengkajian keadaan umum, aktivitas, paritas, jarak kehamilan yang dapat menentukan berapa lama tonus otot kembali normal.
d. Perubahan Ligamen
Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus, setelah janin lahir, berangsur-angsur menciut kembali seperti sediakala. Tidak jarang ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan letak uterus menjadi retroflexi. Tidak jarang pula wanita mengeluh “kandungannya turun” setelah melahirkan oleh karena ligament, fasia, jaringan penunjang alat genetalia menjadi agak kendor.
e.simpisis pubis
Meskipun relatif jarang, tetapi simpisis pubis yang terpisah ini merupakan penyebab utama morbiditas maternal dan kadang-kadang penyebab ketidakmampuan jangka panjang. Hal ini biasanya ditandai oleh nyeri tekan signifikan pada pubis disertai peningkatan nyeri saat bergerak ditempat tidur atau saat berjalan.Pemisahan simpisis dapat dipalpasi.Sering kali klien tidak mampu berjalan tanpa bantuan. Sementara pada kebanyakan wanita gejala menghilang setelah beberapa minggu atau bulan, pada beberapa wanita lain gejala dapat menetap sehingga diperlukan kursi roda.
Masa nifas ( puerpurium ) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat – alat kandungan kembali seperti pra hamil. Lama masa nifas iniyaitu 6 – 8 minggu. Akan tetapi, seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan.
A.Perubahan Sistem Endokrin
1.Hormon plasenta
Selama periode pasca partum terjadi perubahan hormon yang besar. pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan signifikan hormon-hormon yang diproduksi oleh plasenta. Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan.
Penurunan hormon Human Placental Lactogen (HPL), estrogen dan progesterone serta plasental enzyme insulinase membalik efek diabetogenik kehamilan, sehingga kadar gula darah menurun secara bermakna pada nifas. Ibu diabetik biasanya membutuhkan insulin dalam jumlah yang jauh lebih kecil selama beberapa hari. Karena perubahan hormonal normal ini membuat masa nifas menjadi suatu periode transisi untuk metabolisme karbohidrat, interpretasi tes toleransi glukosa lebih sulit pada saat ini.
Human Chorionic Gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 postpartum dan sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke-3 postpartum.
2.Hormon Pituitary
Prolaktin darah meningkat dengan cepat, pada wanita tidak menyusui menurun dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH meningkat pada fase konsentrasi folikuler pada minggu ke-3, dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.
3.Hormon Oksitosin
Oksitosin dikeluarkan dari kelenjar bawah otak bagian belakang (posterior), bekerja terhadap otot uterus dan jaringan payudara. Selama tahap ketiga persalinan, oksitosin menyebabkan pemisahan plasenta. Kemudian seterusnya bertindak atas otot yang menahan kontraksi, mengurangi tempat plasenta dan mencegah pendarahan. Pada wanita yang memilih menyusui bayinya, isapan sang bayi merangsang keluarnya oksitosin lagi dan ini membantu uterus kembali ke bentuk normal dan pengeluaran air susu.
4.Hipotalamik Pituitary Ovarium
Untuk wanita yang menyusui dan tidak menyusui akan mempengaruhi lamanya ia mendapatkan menstruasi. Seringkali menstruasi pertama itu bersifat anovulasi yang dikarenakan rendahnya kadar estrogen dan progestron. Di antara wanita laktasi sekitar 15% memperoleh menstruasi selama 6 minggu dan 45% setelah 12 minggu. Di antara wanita yang tidak laktasi 40% menstruasi setelah 6 minggu, 65% setelah 12 minggu dan 90% setelah 24 minggu. Untuk wanita laktasi 80% menstruasi pertama anovulasi dan untuk wanita yang tidak laktasi 50% siklus pertama an ovulasi.
B.Perubahan Tanda-Tanda Vital
1.Suhu badan
24 jam post partum suhu tubuh akan naik sedikit (37,50C- 380C) sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan, apabila keadaan normal suhu badan akan biasa lagi. Pada hari ketiga suhu badan akannaik lagi karena ada pembentukan ASI, buh dada menjadi bengkak, berwarna merah karena banyaknya ASI bila suhu tidak turun kemungkinan adanya infeksi pada endometrium, mastitis, traktus urogenitalis atau system lain. Kita anggap nifas terganggu kalau ada denam lebih dari 380C pada 2hari berturut-turut pada 10 hari yang pertama post partum, kecuali hari pertama dan suhu harus di ambil sekurang-kurangannya 4x sehari.
2.Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali permenit. Sehabis melahirkan biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100 adalah abnormal da hal ini mungkin disebabkan oleh infeksi atau perdarahan postpartum yang tertunda.
Sebagian wanita mungkin saja memiliki apa yang disebut bradikardi nifas(puerperal braycardia). Hal ini terjadi segera setelah kelahiran dan biasa berlanjut sampai beberapa jam setelah kelahiran anak. Wanita semacam ini bisa memiliki angka denyut jantung serendah 40-50 detak per menit. Sudah banyakalas an-alasan yang diberikan sebagai kemungkinan penyebab, terapi belum satupun yang sudah terbukti. Bradycardia semacam itu bukanlah satu alamat atau indikasi adanya penyakit, akan tetapi sebagai satu tanda keadaan kesehatan.
3.Tekanan Darah
Biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi pada postpartum dapat menandakan terjadinya preeklamsi postpartum.
4.Pernafasan
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Apabila suhu dan denyut nadi tidak normal pernafasan juga akan menikutinya kecuali ada gangguan khusus pada saluran pernafasan.
C.Perubahan Sistem Kardiovaskuler
Pada persalinan pervaginam kehilangan darah sekitar300-400 cc. bila kelahiran melalui section caesaria kehilangan darah dapat dapat dua kali lipat. Perubahan terdiri dari volume darah dan hemokonsentrasi akan naik dan pada section caesaria haemoknentrasi cenderung stabil dan kembali normal setelah 4-6 minggu.
Setelah melahirkan shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relative akan bertambah. Keaadaan ini akan menimbulakan beban pada jantung dan dapat menimbulkan dekompensi kodis pada penderita vitium cordia. Untuk keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensi dengan timbulnya haemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti sediakala. Umumnya hal ini terjadi pada hari ke tiga sampai lima hari post partum.
D.Perubahan Sistem Hematologi
Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasama serta faktor-faktor pembentukan darah meningkat . pada hari pertama postpartum, kadar fibrionogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi darah lebih mengental dengan peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah. Leukositosis yang meningkat dimana jumlah sel darah putih dapat mencapai 15000 selama persalinan akan tetap tinggi dalam beberapa hari pertama dari masa postpartum. Jumlah sel darah putih tersebut masih bisa naik lagi sampai 25000 atau 3000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan lama. Jumlah hemoglobine, hematokrit dan erytrosyt akan sangat bervarisai pada awal-awal masa postpartum sebagai akibat dari volume darah, volume plasenta dan tingkat volume darah yang beruibah-ubah. Semua tingkatan ini akan dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi wanita tersebut. Kira-kira selama kelahiran dan masa post partum terjadi kehilangan darah sekitar 200 - 500 ml. Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit dan hemoglobine pada hari ke 3-7 postpartum dan akan kembali normal dalam 4 – 5 minggu postpartum.
Selama periode pasca partum terjadi perubahan hormon yang besar. pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan signifikan hormon-hormon yang diproduksi oleh plasenta. Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan.
Penurunan hormon Human Placental Lactogen (HPL), estrogen dan progesterone serta plasental enzyme insulinase membalik efek diabetogenik kehamilan, sehingga kadar gula darah menurun secara bermakna pada nifas. Ibu diabetik biasanya membutuhkan insulin dalam jumlah yang jauh lebih kecil selama beberapa hari. Karena perubahan hormonal normal ini membuat masa nifas menjadi suatu periode transisi untuk metabolisme karbohidrat, interpretasi tes toleransi glukosa lebih sulit pada saat ini.
Human Chorionic Gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 postpartum dan sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke-3 postpartum.
6.Hormon Pituitary
Prolaktin darah meningkat dengan cepat, pada wanita tidak menyusui menurun dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH meningkat pada fase konsentrasi folikuler pada minggu ke-3, dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.
7.Hormon Oksitosin
Oksitosin dikeluarkan dari kelenjar bawah otak bagian belakang (posterior), bekerja terhadap otot uterus dan jaringan payudara. Selama tahap ketiga persalinan, oksitosin menyebabkan pemisahan plasenta. Kemudian seterusnya bertindak atas otot yang menahan kontraksi, mengurangi tempat plasenta dan mencegah pendarahan. Pada wanita yang memilih menyusui bayinya, isapan sang bayi merangsang keluarnya oksitosin lagi dan ini membantu uterus kembali ke bentuk normal dan pengeluaran air susu.
8.Hipotalamik Pituitary Ovarium
Untuk wanita yang menyusui dan tidak menyusui akan mempengaruhi lamanya ia mendapatkan menstruasi. Seringkali menstruasi pertama itu bersifat anovulasi yang dikarenakan rendahnya kadar estrogen dan progestron. Di antara wanita laktasi sekitar 15% memperoleh menstruasi selama 6 minggu dan 45% setelah 12 minggu. Di antara wanita yang tidak laktasi 40% menstruasi setelah 6 minggu, 65% setelah 12 minggu dan 90% setelah 24 minggu. Untuk wanita laktasi 80% menstruasi pertama anovulasi dan untuk wanita yang tidak laktasi 50% siklus pertama an ovulasi.
F.Perubahan Tanda-Tanda Vital
1.Suhu badan
24 jam post partum suhu tubuh akan naik sedikit (37,50C- 380C) sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan, apabila keadaan normal suhu badan akan biasa lagi. Pada hari ketiga suhu badan akannaik lagi karena ada pembentukan ASI, buh dada menjadi bengkak, berwarna merah karena banyaknya ASI bila suhu tidak turun kemungkinan adanya infeksi pada endometrium, mastitis, traktus urogenitalis atau system lain. Kita anggap nifas terganggu kalau ada denam lebih dari 380C pada 2hari berturut-turut pada 10 hari yang pertama post partum, kecuali hari pertama dan suhu harus di ambil sekurang-kurangannya 4x sehari.
2.Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali permenit. Sehabis melahirkan biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100 adalah abnormal da hal ini mungkin disebabkan oleh infeksi atau perdarahan postpartum yang tertunda.
Sebagian wanita mungkin saja memiliki apa yang disebut bradikardi nifas(puerperal braycardia). Hal ini terjadi segera setelah kelahiran dan biasa berlanjut sampai beberapa jam setelah kelahiran anak. Wanita semacam ini bisa memiliki angka denyut jantung serendah 40-50 detak per menit. Sudah banyakalas an-alasan yang diberikan sebagai kemungkinan penyebab, terapi belum satupun yang sudah terbukti. Bradycardia semacam itu bukanlah satu alamat atau indikasi adanya penyakit, akan tetapi sebagai satu tanda keadaan kesehatan.
3.Tekanan Darah
Biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi pada postpartum dapat menandakan terjadinya preeklamsi postpartum.
4.Pernafasan
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Apabila suhu dan denyut nadi tidak normal pernafasan juga akan menikutinya kecuali ada gangguan khusus pada saluran pernafasan.
G.Perubahan Sistem Kardiovaskuler
Pada persalinan pervaginam kehilangan darah sekitar300-400 cc. bila kelahiran melalui section caesaria kehilangan darah dapat dapat dua kali lipat. Perubahan terdiri dari volume darah dan hemokonsentrasi akan naik dan pada section caesaria haemoknentrasi cenderung stabil dan kembali normal setelah 4-6 minggu.
Setelah melahirkan shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relative akan bertambah. Keaadaan ini akan menimbulakan beban pada jantung dan dapat menimbulkan dekompensi kodis pada penderita vitium cordia. Untuk keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensi dengan timbulnya haemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti sediakala. Umumnya hal ini terjadi pada hari ke tiga sampai lima hari post partum.
H.Perubahan Sistem Hematologi
Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasama serta faktor-faktor pembentukan darah meningkat . pada hari pertama postpartum, kadar fibrionogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi darah lebih mengental dengan peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah. Leukositosis yang meningkat dimana jumlah sel darah putih dapat mencapai 15000 selama persalinan akan tetap tinggi dalam beberapa hari pertama dari masa postpartum. Jumlah sel darah putih tersebut masih bisa naik lagi sampai 25000 atau 3000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan lama. Jumlah hemoglobine, hematokrit dan erytrosyt akan sangat bervarisai pada awal-awal masa postpartum sebagai akibat dari volume darah, volume plasenta dan tingkat volume darah yang beruibah-ubah. Semua tingkatan ini akan dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi wanita tersebut. Kira-kira selama kelahiran dan masa post partum terjadi kehilangan darah sekitar 200 - 500 ml. Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit dan hemoglobine pada hari ke 3-7 postpartum dan akan kembali normal dalam 4 – 5 minggu postpartum.